Datanglah ke Desa Empangau, maka Anda akan melihat ikan-ikan terjaga kelestariannya. Arwana, toman, baung, belida. Kami melindungi danau dan hutan kami.

 

Danau lindung Empangau adalah termasuk kategori danau ox-bow (danau ladam kuda). Menjadi bagian dari ekosistem perairan rawa banjir yang terhubung dengan ekosistem hutan rawa yang luas. Batasnya mencakup empat kecamatan di sepanjang Sungai Kapuas dan menjadi bagian dari kawasan penyangga Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS).

Berada di Desa Nanga Empangau, Kecamatan Bunut Hilir; Danau Empangau ditetapkan sebagai danau lindung melalui SK Bupati No. 6 Tahun 2001. Luasnya mencapai 124 hektare dengan kedalaman 3-21 meter. Di kawasan lindung, kedalamannya bisa mencapai 17,5 meter. Dengan suhu air berkisar antara 28-32oC menjadikan danau ini sebagai habitat yang cocok untuk berbagai jenis ikan seperti arwana, siluk, toman, jelawat, ringau, tengadak dan baung.

Daftar keanekaragaman jenis flora dan fauna penting di Danau Lindung Empangau

Flora

No. Nama lokal Nama ilmiah Keterangan
1 Putat Barringtonia acutangula *
2 Entangis Ixora mentangis *
3 Tempurau Dipterocarpus sp. *
4 Purik Mitragyna speciosa *
5 Raba Buchanania arborescens *
6 Bungur Lagerstroemia speciosa *
7 Terap Artocarpus elasticus *
8 Cempedak air Artocarpus intiger *
9 Kempas/menggeris Koompassia malaccensis *
10 Kelansau Dryobalanops sp. *
 

 Fauna

No. Nama lokal Nama ilmiah Keterangan
1 Mayas Pongo pygmaeus pygmaeus **
2 Rencong/Bekantan Nasalis larvatus **
3 Tingang/enggang Buceros spp. **
3 Bangau Ciconia stormi *
4 Biawak Varanus salvator *
5 Berang berang Cynogale bennettii *
6 Lebah madu Apis dorsata ***
7 Ikan arwana / siluk Scleropages formosus ****
8 Ikan toman Channa micropeltes ***
9 Ikan jelawat Leptobarbus hoevenii ***
10 Ikan entukan Thynnichthys thynnoides ***
11 Ikan ringau Datnioides microlepis ***
12 Ikan botia Botia macracanthus ***
13 Ikan tengadak Barbodes schwanenfeldii ***
14 Ikan tabiring Belodontichthys dinema ***
15 Ikan tapah Wallago leeri ***
16 Ikan betutu Oxyeleotris marmorata ***
17 Ikan belida Notopterus borneensis ***
18 Ikan baung Mystus nemurus ***
19 Pecuk ular Anhinga melanogaster *
 

Ket : *         = Lindung(oleh masyarakat)

         **         = Langka(CITES)

         ***       = Ekonomis

         ****     = Lindung, Langka, dan ekonomis (oleh masyarakat)

Adapun Desa Empangau dihuni oleh 1.747 jiwa, yang tersebar di dusun Empangau Hulu, Dusun Kuala Dua, dan Dusun Pangelang. Mereka adalah suku Melayu dan memeluk agama Islam. Ada satu masjid besar di desa, dan tiga buah surau di masing-masing dusun.

Mata pencaharian pokok masyarakat di desa ini adalah budidaya karet secara subsisten. Hampir semua keluarga memiliki kebun karet. Tingkat produktivitas rata-rata kebun karet mereka sebanyak 10 kilogram karet basah per hari. Di musim penghujan, mereka menangkap ikan di danau, sungai dan perairan umum yang berada di dalam kawasan Desa Empangau seperti Sungai Kapuas, Danau Penganyuh, Danau Empangau dan Danau Aduk. Rata-rata hasil tangkapannya sekitar 15- 20 kilogram, tapi di musim kemarau tangkapan mereka bisa mencapai ratusan kilo.

Peta Lokasi Desa Empangau dan Lokasi Danau Lindung Empangau

Ketergantungan masyarakat terhadap danau lindung terletak pada fungsi danau sebagai sumber daya perikanan karena danau lindung merupakan habitat asli ikan bernilai ekonomi tinggi. Dengan kata lain, tingkat ketergantungan terhadap kegiatan budidaya di bidang perikanan relatif rendah, karena di kawasan Desa Empangau terdapat banyak danau dan sungai-sungai yang masih bisa dimanfaatkan. Selain itu masyarakat juga dapat memanfaatkan tradisi kerinan atau panen ikan pada musim kemarau di danau dan lubuk sungai. Dari kegiatan itu saja, dapat dihasilkan berton-ton ikan. Bukan?

Saat ini Danau Empangau menjadi prioritas utama dalam menjalankan fungsinya sebagai Danau Lindung melalui inisiatif masyarakat yang dimulai sejak tahun 2000 dengan dilepaskannya indukan Arwana di danau ini. Perlindungan ini dikukuhkan menjadi kegiatan utama di danau lindung setelah masyarakat mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan pembibitan ikan arwana pada tahun 2004, yang masih dilanjutkan hingga saat ini. Dengan metode tersebut, masyarakat pun mendapat manfaat ekonomi yang lebih baik dari Danau Empangau.

Jumlah Induk Ikan Arwana yang Dilepas dan Total Produksi Anak Ikan Arwana yang Dipanen dari Danau Empangau

No. Tahun

Restocking

Sumber Jumlah yang mati Jumlah yang dihasilkan
Swadaya Pemda WWF
1 2000 3 1
2 2002 12 3
3 2004 4 2 28
4 2005 36
5 2006 41
6 2007 42
7 2008 4 2 27
8 2009 29
9 2010
10 2011 3 3 4 1 4
11 2012 2 3 4 2 56
12 2013 3 92
JUMLAH 16 22 8 7 355

 

Alur Sejarah Danau Empangau

No Tahun Peristiwa
1 1986 Pernah dilakukan pelepasan 1 ekor siluk, pada saat itu tidak disertai dengan pengaturan yang ketat dan hanya diikuti oleh sebagian masyarakat saja.
2 1995-1996 Diduga ikan siluk dan ikan jenis lainnya di danau ini hampir punah
3 1997 Berawal dari pemikiran akan kepunahan ikan siluk

kondisi alami danau yang baik dan cocok bagi kehidupan ikan

Nilai ekonomi yang semakin meningkat

Saat itu rukun nelayan yang diketuai oleh pak Isa berinisiatif mengumpulkan warga dan secara rutin mengadakan rapat untuk melindungi danau empangau

Berdasarkan inisiatif bersama direncanakan untuk mengkonservasi ikan siluk dengan membeli secara swadaya (3 ekor, anak ikan siluk) untuk dilepaskan pada tahun 2000

4 1998-2008 sejak tahun 1998, dilakukan perumusan peraturan nelayan yang setiap tahun terus diperbaharui/revisi hingga tahun 2008.

Dibentuk struktur yang sederhana

5 2000 Terbentuklah danau lindung empangau yang disepakati oleh seluruh masyarakat

Diresmikan dengan pelepasan 2 ekor arwana.

Pelepasan dilakukan langsung oleh bupati kapuas hulu dan sejak tahun 2000 kemudian dikenalkan sistem pengelolaan danau berdasarkan sistem zonasi (zona ekonomi, zona pemanfaatan secara terbartas dan zona lindung)

6 2001 Dikukuhkan menjadi danau lindung melalui sk bupati kapuas hulu no 6 tahun 2001

Masyarakat Empangau mengakui, kunci keberhasilan pengelolaan Danau Empangau adalah species kunci yang memberikan manfaat ekonomi langsung dalam skala luas kepada masyarakat, dan terpeliharanya kearifan lokal dalam bentuk aturan dan pengaturan secara adat. Melalui kelembagaan nelayan subsisten, masyarakat setempat telah lama memiliki aturan (hukum adat) dan pengaturan secara khusus (skala desa) tentang pemanfaatan sumberdaya perikanan yang diberlakukan dari dulu hingga saat ini. Seiring dengan waktu, aturan dan pengaturan tersebut disesuaikan dengan perkembangan lingkungan dan kebutuhan. Dan pengelolaan danau lindung dengan ikan arwananya bersumber dari alasan-alasan kebudayaan dan tradisi setempat

Beberapa contoh kearifan lokal di Desa Empangau adalah larangan menangkap ikan di suatu kawasan danau, sungai dan perairan umum ketika kawasan tersebut sudah disepakati menjadi kawasan perlindungan. Para pelanggar akan dikenai sanksi yang tertuang dalam buku peraturan adat setempat. Insentif sebesar 10% merupakan nilai yang disepakati dari dulu hingga saat ini bagi kegiatan-kegiatan perikanan ekstraktif. Pengaturan alat tangkap ikan pun disesuaikan dengan status kawasan perlindungannya.

Kearifan lokal itu, belakangan dikombinasikan dengan aturan pemerintah dalam hal pengelolaan kawasan berdasarkan zonasi. Termasuk di dalamnya program peningkatan kapasitas nelayan dan penguatan kelembagaan lokal/lembaga pengelola yaitu kelompok pengelola danau lindung dan kelompok masyarakat pengawas yang dikukuhkan pada 17 April 2007 oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat.

Penetapan zona dilakukan masyarakat berdasarkan hasil musyawarah yang berbasis pada pengalaman, pengetahuan dan karakteristik danau. Asumsinya, bila semua kawasan dilindungi maka mata pencaharian masyarakat jadi sempit, padahal danau diharapkan memberikan alternatif pendapatan bagi masyarakat

Pembagian Zonasi Kawasan Danau Lindung Empangau

Pembagian Zonasi Batasan Zonasi
Zona Ekonomi wilayah yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat umum setiap hari (untuk keperluan individu sehari-hari)
zona pemanfaatan terbatas wilayah yang dapat dikelola untuk keperluan masyarakat umum/bukan keperluan individu (dana abadi/kas organisasi)
zona lindung wilayah yang pemanfaatannya hanya untuk panen ikan siluk (setahun sekali)

 

Sistem zonasi semacam ini dinilai tepat. Alasannya, setelah penerapan sisten zonasi penghasilan ikan (konsumsi) dari Danau Empangau meningkat. Masyarakat pun hanya memanfaatkan zona ekonomi untuk penangkapan ikan (konsumsi), sedangkan zona lindung tidak dimanfaatkan untuk penangkapan ikan konsumsi kecuali arwana. Ikan itu boleh dimanfaatkan di seluruh kawasan danau, dengan syarat, ukurannya kurang dari 5 cm.

Agar aturan ini efektif, kelompok pengawas masyarakat bertugas membantu mengawasi kawasan. Di tingkat desa, kelompok ini merupakan pelaksana pengawasan danau lindung, perairan umum dan sungai-sungai di desa. Kepengurusannya hanya ada enam orang; ketua, sekretaris dan bendahara dan tiga anggota. Mereka dibantu masyarakat setempat. Namun begitu, fungsi kelompok dirasa efektif.

Pernah di tahun 2005, kejadian pencurian tiga ekor induk arwana. Kelompok melakukan penyelidikan selama tiga bulan dan menemukan pelaku yang kemudian dijatuhi sanksi Rp 25 juta untuk setiap ekor arwana. Sanksi yang lebih ringan diberlakukan untuk kegiatan menyetrum, meracun, dan penggunaan alat tangkap yang merusak.

Skema Pengurus Kelompok Pengawas Masyarakat

Empangau Skema

Manfaat Perlindungan

Sejak lebih 10 tahun lalu, masyarakat Desa Empangau merasakan dampak langsung ekonomi dari kegiatan menangkap anak ikan arwana (manyiluk). Mereka memanen anak-anak ikan arwana dua kali setiap tahun. Sebesar 10% dari hasil penjualan kemudian dikembalikan ke kas desa untuk kepentingan komunitas, dan dimanfaatkan untuk membangun Pos Polisi, perbaikan sarana ibadah, membayar tunjangan/honor para guru honorer di Desa Empangau, dan sebagainya.

Produksi dan Nilai Ekonomi Ikan Arwana di Danau Lindung Empangau (Desember 2013)

 

No Tahun Produksi(ekor) Harga/ekor (Rp.) Jumlah (Rp) Kas Desa 10%
1 2004 28 7.500.000 210.000.000 21.000.000
2 2005 36 4.500.000 162.000.000 16.200.000
3 2006 41 3.500.000 143.500.000 14.350.000
4 2007 42 3.500.000 147.000.000 14.700.000
5 2008 22 3.500.000 77.000.000 7.700.000
6 2009 29 2.700.000 78.300.000 7.830.000
7 2010)*
8 2011 4 3.000.000 12.000.000 1.200.000
9 2012 56 3.000.000 168.00.000 16.800.000
10 2013 92 3.000.000 276.000.000 27.600.000
total 355

Catatan : Tahun 2010 gagal panen dikarenakan sepanjang tahun permukaan air sangat tinggi. Menurut catatan masyarakat hampir 14 bulan terjadi pasang di danau sebagai ekses dari luapan air Sungai Kapuas.

Tentu keberhasilan tersebut, tidak terlepas dari penegakkan aturan pelestarian berbasis aturan adat. Masyarakat Desa Empangau juga telah menerapkan sistem pengelolaan danau berupa berdasarkan zona inti perlindungan, zona penyangga, dan zona pemanfaatan sebagai pegangan mata pencaharian maupun atraksi wisata perairan.

Penerapan ini berdasarkan inisiatif mandiri dari para tokoh dusun yang prihatin terhadap merosotnya habitat ikan arwana di akhir tahun 1989 akibat over eksploitasi maupun perubahan ekosistem alamiahnya. Melalui pemijahan secara tradisional yang kemudian didukung oleh pemerintah daerah, selanjutnya keberadaan ikan arwana merah dipulihkan, sekaligus dipertahankan menjadi sumber penghasilan maupun eksistensi sebagai maskot khas Kalimantan Barat.

Motivasi yang menjadi kekuatan masyarakat Empangau mengelola danau lindung dapat dibedakan menjadi tiga kelompok besar. Pertama, ketaatan yang masih murni atau motivasi yang tidak berubah sejak awal yakni keinginan untuk menyelamatkan kawasan dengan melibatkan seluruh masyarakat. Kelompok ini terdiri dari para orang tua, penggagas, tokoh adat dan tokoh agama.

Kedua, adanya manfaat ekonomi langsung dari kegiatan pengelolaan perikanan. Kelompok ini terdiri dari rukun nelayan, kelompok pemuda dan warga biasa. Ketiga, termotivasi oleh prestasi, jaringan dan pengetahuan yang kemudian timbul setelah inisiatif ini berkembang, seperti kelompok pemerintah desa, lembaga desa dan warga yang berminat dalam pengembangan wisata.

Belakangan muncul pendekatan ICCA yang berperan mengembalikan semangat kekuatan tradisi di Desa Empangau. Awalnya ICCA dianggap sebagai konsep oleh? lembaga donor karena sikap pragmatisme kelompok kedua yang mengejar manfaat ekonomi. Tapi ICCA mulai dikenal sebagai tatacara dan kearifan lokal di Danau Empangau. Ke depan, warga dan para pengurus lembaga di desa, akan menerapkan pendekatan? ICCA untuk penyelamatan lokasi hutan adat yang sampai saat ini belum mendapat perhatian yang serius.

Related Projects