Mereka adalah keturunan empat gunung. Mereka menuntut hutan, sungai dan laut mereka tidak dirusak. Tidak dijual.

BERDIRI di pesisir Ternate yang menghadap ke pulau Tidore dan Maitara, mengingatkan kita pada lembar gambar alat transaksi resmi Indonesia. Keindahan ini seakan berpadu dengan perjalanan kesejarahan empat pilar kerajaan penting di wilayah Maluku Utara yakni kerjaaan Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan. Posisi penting empat kerajaan ini memunculkan istilah lain bagi Maluku Utara yakni Kei Raha atau empat gunung dan telah mengisi kolom-kolom sejarah panjang perjalanan Nusantara.

Sejarah panjang perebutan dan penguasaan wilayah juga pengaruh antar empat kerajaan tersebut mencapai hingga wilayah Papua (timur) dan Sulawesi (barat). Ujung-ujungnya adalah dominasi dua kerjaan utama yakni Ternate dan Tidore,yang tidak bisa dilepaskan dari perebutan ruang ekonomi berbasiskan hasil sumber daya alam berupa rempah-rempah. Bahkan pelibatan negara-negara penjajah (Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda) di negeri Kei Raha juga bagian dari perebutan ruang ekonomi ini.

Kisah perjalanan negeri Kie Raha ini memberikan pemahaman, bahwa situasi konflik yang terjadi di Maluku Utara terutama pada aspek sosialnya, mengingat relasi kekuasaan raja (Ternate danTidore) dengan wilayah-wilayah penguasaannya pada masa lalu, masih memiliki pengaruh yang besarhingga saat ini, terutama bagi sebagian besar masyarakat yang hidup di pedesaan termasuk di Kabupaten Halmahera Selatan.

Kabupaten yang beribukota di Bacan ini memiliki jumlah pulau terbanyak di Indonesia. Dengan jumlah hampir 1.000 pulau, dengan 7 pulau besar didalamnya yakni Bacan, Makian, Kayoa, Kasiruta, Mandioli, Obi dan Gane. Ada pun Ganea dalah salah satu dari 250 desa yang ada di sana. Mayoritas penduduk bermata pencaharian petani kebun dan nelayan. Beberapa tanaman produktif bulanan dan tahunan yang dihasilkan adalah buah-buahan, sayur mayur, cabe, ubi, kelapa, pala, dan cengkeh.

Daratan kepulauan dan lautannya bagi masyarakat Gane adalah sumber penghidupan, karena dari sanalah mereka mendapatkan sumber karbohidrat, protein, mineral, vitamin, kayu untuk rumah dan perahu serta obat-obatan herbal. Semua kekayaan tersebut didukung oleh kesuburan tanah dan laut yang ada di sekitarnya.

Dalam pengelolaan wilayahnya, masyarakat setempat membagi tiga ruang. Pertama, wilayah pemukiman. Dan pemukiman orang Gane Dalam terkonsentrasi di satu titik, baik dalam administrasi dusun maupun desa yang saling berdekatan.

Kedua, wilayah perkebunan. Lahan ini berada agak jauh dari lokasi pemukiman warga. Untuk mencapainya, warga menggunakan perahu dayung dan perahu mesin tempel. Ketiga, wilayah perairan. Secara umum masayarakat Gane Dalam memanfaatkan wilayah perairan sebagai sarana mobiltas dan sumber protein dari ikan-ikan yang mereka tangkap secara tradisional lewat pancing dan bubu.

Secara umum, masyarakat memiliki lahan kelolanya berdasarkan warisan turun temurun. Warisan itu memiliki nilai sejarah sehingga dalam proses pembukaan lahan, mereka menggunakan ritual adat yang disebut Tolagum. Sejarah panjang masyarakat Gane tidak terlepas dari perjalanan panjang kerajaan Ternate dan Tidore pada umumnya. Karenanya mereka termasuk pada komunitas yang sudah cukup tua.

Beberapa hasil kebun utama yang menjadi penopang hidup masyarakat: buah kelapa yang sudah mereka olah menjadi kopra, kemiri, kenari serta hasil perkebunan semusim (cabai, terong, kacang). Sedangkan olahan siap konsumsi seperti keripik pisang, kerupuk popaco (sejenis kerang-kerangan yang ada di wilayah mangroove) masih dalam tahap uji coba.

Jika dilihat dari perspektif budaya, orang Gane Dalam memiliki kultur dominan sebagai petani walaupun wilayahnya dikelilingi lautan. Kultur ini tercermin dari aktifitas ekonomi dan relasi dominan yang terjadi di masyarakat. Maka tidaklah mengherankan sumber daya kelautan yang dimiliki desa Gane Dalam masih terjaga dengan baik, karena masyarakat hanya mengambil ikan seperlunya untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga yang biasanya dilakukan dalam perjalanan pulang dari kebun. Ikan yang diambil pun hanya ikan tertentu seperti cakalang, tongkol, tuna dan kerapu.

Tapi kedamaian masyarakat Gane (Dalam dan Luar) bersama anugrah sumber daya alam dan lingkungannya yang luar biasa, mulai terusik ketika PT Gelora Mandiri Membangun anak perusahaan PT KORINDO (Korea) berinvestasi di Halmahera Selatan dengan membangun perkebunan kelapa sawit. Luas wilayah konsesinya mencapai 11.003, 90 hektare (SK Menteri Kehutanan No SK.22/MENHUT-II/2009 tentang pelepasan sebagian kawasan hutan produksi). Dari luas tersebut, yang sudah dibuka saat ini kurang lebih 1.000 hektare (250 hektare di antaranya untuk pabrik dan penginapa buruh, 500 hektare realisasi dan 250 hektare untuk lahan pembibitan).

Masyarakat kini menghadapi berbagai tantangan selain persoalan lahan (wilayah kelolanya). Setidaknya akan ada 20 desa yang terancam wilayah kelolanya jika perusahaan ini sudah merealisasi kan seluruh konsesinya yang meliputi tujuh desa di Kecamatan Gane Barat Selatan, enam desa di Kecamatan Gane Timur Selatan dan tujuh desa di Kecamatan Kepulauan Joronga. Selain terkait lahan dan wilayah kelola, masyarakat setempat juga menghadapi masalah sosial dan lingkungan.

Dalam sebuah pertemuan, mereka mencatat setidaknya ada delapan masalah. Pertama, enam anak sungai sudah hilang. Di antaranya empat sungai tadah hujan dan dua anak sungai bermata air yang tertutup urugan tanah oleh perusahaan.

Kedua, konflik internal di tingkatan warga mulai nampak, dengan munculnya kubu yang pro dan kontra terhadap kehadiran perusahaan. Ketiga, keresahan karena proses intimidasi yang dilakukan oleh aparat kepolisian yang mengawal proses land clearing.

Keempat, petilasan Sangaji Gane telah digusur oleh perusahaan. Kelima, biaya untuk ke kebun kini semakin meningkat. Masyarakat harus membawa air dari kampung untuk keperluan di kebun. Keterbatasan air ini memaksa mereka harus pulanglebih cepat. Biasanya mereka baru kembali setelah seminggu tapi kini jadi dua hari sekali (untuk sekali jalan ke kebun, masyarakat membutuhkan bahan bakar lima liter dengan harga Rp 12.000 per liter).

Keenam, debu dari aktivitas pembukaan lahan dan asap dari pembakaran kayu dan serasah selama proses land clearing. Ketujuh, banyak pohon yang ditebang oleh perusahaan. Warga kini kesulitan mendapatkan kayu untuk kepentingan domestiknya.

Kedelapan, pencurian kayu dan hasil kebun masyarakat (cabe dan pisang) sudah mulai terjadi. Kejadian pencurian ini sebelum beroperasinya perusahaan belum pernah terjadi.

Tak Surut

Ancaman yang sudah nyata dihadapi oleh masyarakat Gane, tidak menyurutkan langkah mereka mempertahankan kondisi wilayah kelolanya. Pro-kontra yang terjadi di masyarakat, intimidasi yang berakhir di penjara bebera orang masyarakat Gane, mereka pahami sebagai bagian dari perjuangan hidup. Mereka mementingkan mempertahankan tanah Tolagum (warisan leluhur).

Mereka karena itu tetap mengusahakan hak atas wilayah kelolanya. Upaya ini telah dikuatkan oleh salah satu butir kesimpulan Komnas HAM, Januari 2014 bahwa “Masyarakat Gane Dalam dsk adalah masyarakat adat dengan ciri mempunyai struktur adat, wilayah adat, tanah ulayat yang dikelola secara kolektif maupun perseorangan dan hukum adat yang masih dipatuhi oleh masyarakat sesuai dengan ketentuan UU No. 39 l/1999 pasal 6. Sebagai masyarakat adat yang hidupnya sangat bergantung pada SDA, maka hal tersebut harus diperhatikan oleh pemerintah maupun perusahaan ketika melakukan investasi”.

Masyarakat juga melakukan berbagai upaya perbaikan lingkungan dan pengkayaan vegetasi. Dimulai dengan penanaman bakau di sepanjang pantai yang kondisi vegetasi mangrove-nya sudah rusak, melakukan pembibitan tanaman ekonomi keluarga dan sebagainya.

Related Projects