Kewang, Kisah Laut dan Ikan Lompa

Negeri Haruku adalah negeri laut. Penuh ikan lompa dan dijaga para kewang.

HARUKU adalah pulau kecil di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Letaknya di antara Pulau Ambon dan Saparua.Pulau ini dapat dicapai dengan speed boat sekitar 20 menit dari pelabuhan Tulehu, Ambon. Gugusan pulau Haruku, Saparua dan Nusalaut dikenal dengan sebutan Kepulauan Lease, tapi Haruku adalah juga nama kecamatan yang membawahi 11 negeri. Luas wilayahnya sekitar 473 Km2 yang terletak 10 kilometer arah timur pulau Ambon.

Secara historis, 11 negeri di Haruku dikelompokan menjadi dua uli atau persekutuan berdasarkan adat-istiadat masyarakat adat setempat. Pertama, Uli Hatuhaha yang merupakan persekutuan lima negeri yang dikenal dengan sebutan amarima hatuhaha atau amarima lounusa. Kelima negeri itu adalah Pelauw, Kailolo, Rohomoni, Hulaliu dan Ori. Semuanya berada disebelah utara Pulau Haruku.

Kedua, Uli Buang Besi persekutuan dari enam negeri Sarani, atau negeri yang penduduknya beragama Kristen. Yaitu Sameth, Haruku, Wassu, Oma, Aboru, dan Kairu. Letaknya berada di selatan pulau, kecuali Kairu. Dulu, Kairu berada di selatan (hutan Aboru dan Awassu), tapi karena ada relokasi pemukiman, mereka dipindahkan.

<!––nextpage––>

 

Berdasarkan data monografi Kabupaten Maluku Tengah, jumlah total penduduk yang berdiam di Pulau Haruku adalah 2.098 Jiwa dengan 530 kepala keluarga (KK).

Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin (2010)

No

Kelompok Umur

Laki-laki (jiwa)

Perempuan (jiwa)

Jumlah

1 0-4 125 123 248
2 5-9 140 114 254
3 10-14 124 108 232
4 15-19 87 54 141
5 20-24 44 44 88
6 25-29 82 77 159
7 30-34 68 58 126
8 35-39 58 54 112
9 40-44 42 65 107
10 45-49 63 68 131
11 50-54 70 67 137
12 55-59 47 55 102
13 60-64 45 45 90
14 65-69 25 18 43
15 70-74 26 22 48
16 75+ 37 43 80
Jumlah 1,083 1,015 2,098

Sumber: Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, 2010

Sebagian besar yang tinggal di Haruku adalah orang tua, orang dewasa yang sudah menikah dan anak-anak yang bersekolah dari tingkat SD dan SLTP. Remaja dan orang dewasa banyak yang melanjutkan sekolah SLTA dan perguruan tinggi di Ambon dan kota lainnya.

Di Negeri Haruku, masyarakat mempunyai kesadaran akan pendidikan yang tinggi. Ada peraturan adat tentang waktu belajar bagi anak-anak pelajar yaitu mulai 19.00 sampai 20.30 Waktu Indonesia Timur.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan

Jenis Kelamin

Laki-laki

Perempuan

Jumlah (jiwa)

%

Jumlah (jiwa)

%

TK 12 1.30 23 2.37
SD / Sederajat 485 52.43 497 51.30
SLTP / Sederajat 236 25.51 220 22.70
SLTA / Sederajat 165 17.84 195 20.12
Perguruan Tinggi 27 2.95 34 3.51
Jumlah 925 100 969 100

Sumber: Pemerintahan Negeri Haruku

 

Adat Haruku

Negeri Haruku adalah wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sebagian masyarakatnya karena itu adalah petani dan nelayan. Saat musim melaut (gelombang tidak tinggi) masyarakat mencari ikan di laut. Sedangkan pada saat musim gelombang tinggi, masyarakat bertani di kebun dan sawah. Sebagian masyarakat yang lain adalah wiraswasta, pengusaha transportasi laut, pertukangan, menjahit, industri rumah tangga dan pegawai negeri sipil (guru).

Mereka semua memegang adat istiadat leluhur mereka. Pakaian adat mereka berupa baju hitam tidak berkancing. Pakaian ini biasanya dipakai oleh kewang ketika memimpin upacara adat. Selain itu, juga menggunakan syal merah dan kain berang (semacam selendang) yang hanya boleh dipakai oleh ketua kewang.

Ada beberapa upacara adat yang masih dilaksanakan oleh Komunitas Adat Negeri Haruku. Antara lain pelantikan raja. Raja baru diangkat sebagai pemimpin adat dan pelantikannya dipimpin oleh tetua-tetua adat yang disebut lalu-pati.

Upacara lainnya adalah panas pela. Yaitu upacara untuk menyatukan hubungan dua negeri. Ikatan Pela artinya ikatan perjanjian. Upacara panas pela saat ini dimaknai sebagai upacara untuk mempererat hubungan keturunan dua negeri.

Ada juga sasi lompa. Yaitu upacara adat untuk memanggil ikan lompa dari laut (karang) ke sungai. Upacara ini dilakukan dalam rangka buka sasi lompa . Dipimpin oleh seorang kepala kewang.

Untuk upacara pernikahan dikenal istilah bayar harta negeri atau berkat. Hal ini dilakukan ketika ada orang Negeri Haruku yang menikah dengan perempuan di luar Negeri Haruku. Berkat dari laki-laki yang dibayarkan ke wanita, berupa kain putih satu kayu (satu gulungan), minuman Jeniver/Sofi, dan uang yang jumlahnya tergantung kemampuan. Adapun tempat pembayaran dilakukan di balileo, melalui prosesi adat yaitu posowari.

Pola kepemilikan tanah di Negeri Haruku juga masih menggunakan sistem adat. Tataruang menurut aturan adat atau jenis-jenis tanah yang dikelola secara adat, ada tiga.

Pertama, tanah dati. Tanah ini dikelola oleh keluarga. Aturan dalam pengelolaan adalah bagi keturunan perempuan tidak boleh mengelola lahan di dusun Dati. Mereka hanya boleh mendapatkan bagian dari hasil perkebunan dan atau pertanian.

Kedua, tanah pusaka, yang dikelola dan menjadi milik marga. Ketiga adalah tanah negeri yang hak kepemilikan pengelolaannya dipegang oleh negeri, biasanya meliputi tanah-tanah rawan dan digunakan untuk keperluan konservasi. Ada aturan, pada kemiringan tertentu tidak boleh digunakan untuk perkebunan.

 

Untuk pengelolaan sumberdaya alam lestari, masayarakat Negeri Haruku memiliki kearifan lokal. Antara lain nanaku. Yaitu pengetahuan masyarakat menentukan lokasi tangkapan ikan. Lokasi tersebut disebut sebagai saaru atau rep. Nama-nama itu sudah ada sejak nenek moyang, Ada nama sair, rurete, oha lau (panjang), oha dara, pasal, wamarima dan rutial.

Secara prinsip, nanaku menandai saaru untuk mengetahui ada tidaknya ikan. Caranya, dengan melihat pasang surut air laut. Jika air laut surut, maka diperkirakan ikan melimpah. Sebaliknya pada saat air pasang, diperkirakan ikan tidak ada. Arus keluar, artinya boleh mencari ikan (memancing). Arus masuk tidak dianjurkan memancing, karena biasanya ikan sedikit atau tidak ada.

Mereka juga percaya dengan tanda alam dan menggunakannya, untuk menentukan lokasi dilaut biasanya dengan melihat tanjung dan gunung sebagai navigasi/patokan. Untuk waktu-waktu baik, mereka mengenal tanati. Mereka percaya, waktu baik untuk beraktifitas ditentukan berdasarkan melihat bulan. Tanati dimulai pada hari ketujuh setelah bulan purnama. Hal yang sama juga berlaku pada saat dari bulan gelap ke bulan purnama. Perhitungan hari pada patokan bulan ini ada kaitannya dengan pasang-surut air laut.

 

Untuk waktu bercocok tanan atau berkebun, masyarakat menggunakan patokan pasang surut air laut. Air pasang tertinggi adalah waktu yang baik untuk menanam. Begitu sebaliknya. Saat penanaman, tidak boleh dilakukan pada saat tengah hari. Masyarakat percaya, bayangan orang yang menanam tidak boleh terkena lubang tempat menaruh bibit karena pada waktu itu binatang buas mengancam dan tanaman bisa dimakan atau dirusak oleh hama, misalnya Babi.

Seperti daerah Maluku pada umumnya, struktur pemerintahan adat di Haruku bertumpu pada ikatan kekerabatan dalam satuan wilayah Petuanan. Dalam Petuanan, terdapat batas-batas wilayah adat (tanah, hutan atau laut) yang menjadi milik bersama di suatu negeri. Hubungan kekerabatan itu terbagi dalam beberapa soa. Yaitu kumpulan marga besar atau klan yang merupakan himpunan dari beberapa mata-rumah (keluarga besar) bermarga sama. Struktur pemerintahan adat di Negeri Haruku, karena itu merupakan dasar pembagian fungsi dan peran secara komunal. Beberapa istilah di dalamnya, dapat dilihat di struktur masyarakat adat Negeri Haruku.

Struktur Masyarakat Adat Negeri Haruku

Haruku KewangSumber : http://www.kewang-haruku.org/struktur.html

Latu Pati adalah Dewan Raja Pulau Haruku, badan kerapatan adat antar para raja di seluruh Pulau Haruku. Tugas utamanya mengadakan pertemuan apabila ada perselisihan antar negeri (kampung/desa) mengenai batas-batas tanah atau hal-hal lain yang dianggap sangat penting. Tapi, para raja tidak boleh memaksakan kehendak masing-masing dan harus mengambil keputusan atas dasar asas kebersamaan dan dengan cara damai.

Raja adalah pucuk pimpinan pemerintahan negeri (pimpinan masyarakat adat). Tugasnya menjalankan roda pemerintahan negeri, memimpin pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh adat & tokoh-tokoh masyarakat, melaksanakan sidang pemerintahan negeri, dan menyusun program pembangunan negeri.

Saniri Besar adalah lembaga musyawarah adat negeri. Lembaga ini terdiri dari staf pemerintahan negeri, para tetua adat dan tokoh-tokoh masyarakat. Tugasnya mengadakan pertemuan atau persidangan adat lengkap kalau dianggap perlu dengan para anggotanya (tokoh adat dan tokoh masyarakat).

Kewang adalah lembaga adat yang dikuasakan sebagai pengelola sumberdaya alam dan ekonomi masyarakat, sekaligus sebagai pengawas pelaksanaan aturan-aturan atau disiplin adat dalam masyarakat. Lembaga ini bertugas menyelenggarakan sidang adat sekali seminggu (Jumat malam), mengatur kehidupan perekonomian masyarakat, mengamankan pelaksanaan peraturan sasi, memberikan sanksi kepada yang melanggar peraturan sasi, meninjau batas-batas tanah dengan desa atau negeri tetangga, menjaga serta melindungi semua sumberdaya alam, baik di laut, kali dan hutan sebelum waktu buka sasi, dan melaporkan hal-hal yang tidak dapat terselesaikan pada sidang adat (kewang) kepada raja dan meminta agar disidangkan dalam Sidang Saniri Besar.

Saniri Negeri adalah Badan Musyawarah Adat tingkat negeri yang terdiri dari perutusan setiap soa yang duduk dalam pemerintahan negeri. Tugas utamanya membantu menyusun dan melaksanakan program kerja pemerintah negeri, menghadiri sidang-sidang pemerintahan negeri, dan membantu Kepala Soa dalam melaksanakan pekerjaan negeri yang ditugaskan kepada soa.

Kapitang adalah Panglima Perang Negeri. Tugasnya mengatur strategi dan memimpin perang pada saat ada perang.

Tuan Tanah adalah kuasa pengatur hak-hak tanah petuanan negeri. Bertugas mengatur dan menyelesaikan masalah-masalah dengan negeri tetangga yang menyangkut batas-batas tanah serta sengketa tanah petunanan yang terjadi dalam masyarakat.

Kepala Soa adalah pemimpin tiap soa yang dipilih oleh soa masing-masing untuk duduk dalam staf pemerintahan negeri. Dia membantu menjalankan tugas pemerintahan negeri apabila raja tidak berada di tempat, memimpin pekerjaan negeri yang dilaksanakan oleh soa, mewakili soa duduk dalam badan pemerintahan negeri; dan menangani acara-acara adat perkawinan dan kematian.

Soa adalah kumpulan beberapa marga. Di Haruku ada beberapa soa yang dibagi menjadi lima. Yaitu soa raja, soa suneth, soa moni, soa lesirohi, dan soa rumalesi. Tugas kumpulan marga ini, melaksanakan pekerjaan negeri bila ada titah (perintah) dari raja melalui kepala soa masing-masing, membantu menangani dan mempersiapkan semua keperluan keluarga anggota soa dalam upacara-upacara perkawinan dan kematian.

Marinyo adalah pesuruh atau pembantu raja. Bertugas sebagai penyampai berita dan titah melalui tabaos (pembacaan maklumat) di seluruh negeri kepada warga masyarakat.

Sasi dan Peraturannya

Perlu diketahui, hukum adat sasi sudah ada sejak dahulu kala. Belum ditemukan data autentik tentang kapan sasi diberlakukan tapi diperkirakan sejak tahun 1600-an, sasi sudah diterapkan di negeri Haruku.

Sasi merupakan aturan adat yaitu larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu dalam waktu yang ditentukan secara adat oleh kepala Kewang sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati. Sasi juga mengatur hubungan manusia dengan alam dan antar manusia. Aturan tersebut pada hakekatnya merupakan upaya untuk memelihara tata-krama hidup bermasyarakat, termasuk upaya ke arah pemerataan pembagian atau pendapatan dari hasil sumberdaya alam sekitar kepada seluruh warga setempat.

Peraturan-peraturan sasi ditetapkan dalam suatu keputusan kerapatan Dewan Adat (Saniri; di Haruku disebut saniri’a lo’osi aman haru-ukui atau pleno Dewan Adat Saniri Negeri Haruku). Hasil keputusan dilimpahkan kewenangan pelaksanaannya kepada lembaga kewang yang terdiri dari Kewang Darat dan Kewang Laut. Ada empat jenis sasi, yang dikenal. Yaitu sasi laut, sasi kali, sasi hutan dan sasi negeri.

Meskipun ketentuan-ketentuan sasi sudah ada sejak lama, ada beberapa tambahan ketentuan baru yang diputuskan dalam rangka mengantisipasi perkembangan zaman. Misalnya untuk sasi kali, ada larangan berperahu motor dengan menghidupkan mesin dalam kali/sungai. Demikian juga halnya dengan ketentuan besarnya jumlah denda pelanggaran dalam bentuk uang tunai, disesuaikan dengan perkembangan ekonomi saat ini.

Contoh lain adalah tambahan peraturan untuk karoro sasi laut yang melarang penggunaan jenis jaring-halus buatan pabrik (karoro). Berdasarkan pengalaman, jenis alat-tangkap ini ternyata sangat merusak karena mampu menangkap semua jenis ikan dalam berbagai ukuran, mirip jaring pukat harimau (trawl).

Demikian pula halnya dengan larangan memanjat pohon bagi kaum perempuan dalam peraturan sasi negeri. Larangan itu diubah dengan memperbolehkan perempuan memanjat pohon asal menggunakan pakaian yang pantas, antara lain, karena pertimbangan bahwa kini tersedia bahan sandang (misalnya, celana panjang) yang juga dapat dikenakan oleh perempuan.

Dalam beberapa hal, sasi bahkan mengatur rinci hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Antara lain soal tempat perempuan dan laki-laki mandi. Aturan semacam ini misalnya bisa ditemui di sasi kali. Di sasi ini, warga juga dilarang mengganggu dan menangkap ikan lompa, dan tidak boleh mencemari kali.

Di sasi laut, ada aturan yang melarang menangkap ikan yang berada dalam daerah sasi dengan menggunakan jenis alat tangkap apa pun. Ikan hanya boleh ditangkap menggunakan jala. Itu pun, tidak boleh dengan menggunakan perahu. Batas kedalaman airnya juga ditentukan hanya setinggi pinggang orang dewasa.

Di sasi hutan, dilarang memanen hasil hutan selama tutup sasi. Kepala Kewang memasang tanda tutup sasi di pinggir hutan sebagai tanda bahwa buah-buahan dan hasil hutan lainnya tidak boleh diambil sampai waktu buka sasi. Waktu buka dan tutup sasi ditentukan oleh Kewang, sebagai pelaksana sasi.

Tutup dan Buka Sasi Lompa

Ikan lompa adalah ikan yang “dihormati” di Negeri Haruku karena bersama ikan make (sardinilla) merupakan hasil laut tahunan. Sungai Learisa Kayeli menjadi habitat ikan lompa pada siang hari dan pada malam hari ikan ini pergi ke laut lepas untuk mencari plankton, sebagai makanan.

 

Bibit atau benih (nener) ikan lompa mulai terlihat secara berkelompok dipesisir pantai Haruku antara bulan April sampai Mei. Pada saat itulah, sasi lompa dinyatakan mulai berlaku atau dikenal dengan istilah tutup sasi. Biasanya, pada usia kira-kira sebulan sampai dua bulan setelah terlihat pertama kali, gerombolan anak-anak ikan lompa mulai mencari muara untuk masuk ke dalam kali.

Kewang sebagai pelaksana sasi memancangkan tanda sasi dalam bentuk tonggak kayu yang ujungnya dililit dengan daun kelapa muda (janur). Itu adalah tanda bahwa semua peraturan sasi ikan lompa sudah mulai diberlakukan.

Artinya, ikan-ikan lompa yang berada dalam kawasan sasi tidak boleh ditangkap atau diganggu dengan alat dan cara apapun, motor laut pun tidak boleh masuk, tidak boleh mencuci dan membuang sampah di kali. Ikan lompa hanya boleh ditangkap dengan kail. Itu pun tidak boleh dilakukan di dalam kali.

Warga yang melanggar peraturan ini akan dikenakan sanksi atau hukuman sesuai peraturan sasi, yakni berupa denda. Anak-anak yang melakukan pelanggaran, akan dikenakan hukuman dipukul dengan rotan sebanyak lima kali yang menandakan bahwa anak itu harus memikul beban amanat dari lima soa (marga besar) yang ada di Haruku.

 

Pada saat mulai memberlakukan masa sasi (tutup sasi), ada upacara yang disebut panas sasi. Upacara ini dilakukan tiga kali setahun, dimulai sejak benih ikan lompa sudah mulai terlihat.

Upacara panas sasi biasanya dilaksanakan pada malam hari sekitar jam 20.00. Acara dimulai pada saat semua anggota kewang telah berkumpul di balileo kewang atau rumah kepala kewang dengan membawa daun kelapa kering (lobe) untuk membuat api unggun. Setelah melakukan doa bersama, api induk dibakar dan rombongan kewang menuju lokasi pusat sasi (Batu Kewang) membawa api induk tadi.

Di Batu Kewang, kepala kewang membakar api unggun, diiringi pemukulan tetabuhan (tifa) yang menandakan adanya lima soa di Negeri Haruku. Pada saat irama tifa menghilang, anggota kewang menyambutnya dengan teriakan sirewei!” (seruan tekad, janji, sumpah). Sesudahnya, kepala kewang menyampaikan kapata (wejangan) untuk menghormati negeri dan para datuk. Menyatakan bahwa mulai saat itu, sasi di laut maupun di darat mulai diberlakukan.

Upacara ini dilakukan pada setiap simpang jalan dimana tabaos (titah, maklumat) dan diumumkan ke seluruh warga dan baru selesai pada pukul 22.00 malam di depan baileo negeri (balai desa) dengan membuang ke laut sisa lobe yang tidak terbakar.

Upacara dinyatakan selesai setelah tanda sasi yang disebut “kayu buah sasi” dipancang. Kayu itu terdiri dari kayu buah sasi mai (induk) dan kayu buah sasi pembantu. Bentuknya mirip tonggak dan dipancangkan pada tempat-tempat tertentu yang menunjukkan luasnya daerah sasi. Di darat kayu-kayu itu diambil dari hutan dan dipancang oleh kepala Kewang Darat. Di laut diambil dari hutan bakau dan dipancang oleh kepala Kewang Laut.

Setelah ikan lompa yang dilindungi cukup besar dan siap untuk dipanen (sekitar 5-7 bulan), kewang dalam rapat rutin seminggu sekali pada hari Jumat malam menentukan waktu untuk buka sasi (pernyataan berakhirnya masa tutup sasi). Keputusan tentang “Hari-H” ini dilaporkan kepada raja negeri (kepala desa) untuk segera diumumkan kepada seluruh warga. Upacara panas sasi yang kedua pun dilaksanakan, sama seperti panas sasi pertama pada saat tutup sasi dimulai.

Bedanya, setelah upacara, kewang melanjutkannya dengan makan bersama dan kemudian membakar api unggun di muara kali Learisa Kayeli pada dini hari. Tujuan untuk memancing ikan-ikan lompa lebih dini masuk ke dalam kali sesuai dengan perhitungan pasang air laut. Biasanya, tidak lama kemudian, gerombolan ikan lompa pun segera berbondong-bondong masuk ke dalam kali. Saat itulah, masyarakat sudah siap memasang bentangan di muara agar pada saat air surut ikan-ikan itu tidak dapat lagi keluar ke laut.

Tepat pada saat air mulai surut, pemukulan tifa pertama dilakukan sebagai tanda bagi para warga, untuk bersiap-siap menuju kali. Tifa kedua dibunyikan sebagai tanda agar semua warga segera menuju kali. Tifa ketiga sebagai tanda bahwa raja, para saniri negeri, juga pendeta, sudah menuju ke kali dan masyarakat harus mengambil tempat masing-masing di tepi kali. Rombongan kepala desa tiba di kali dan segera melakukan penebaran jala pertama, disusul oleh pendeta, dan sesudahnya, semua warga masyarakat, bebas menangkap ikan-ikan lompa.

Sasi ini biasanya dibuka satu sampai dua hari kemudian segera ditutup kembali dengan upacara panas sasi. Catatan penelitian dari Fakultas Perikanan Universitas Pattimura pada saat pembukaan sasi tahun 1984 menunjukkan, jumlah total ikan lompa yang dipanen pada tahun tersebut kurang-lebih 35 ton berat basah. Jumlah sebanyak itu jelas merupakan sumber gizi yang melimpah, sekaligus tambahan pendapatan yang lumayan bagi seluruh warga negeri Haruku. Ikan hasil tanggapan diprioritaskan terlebih dahulu untuk dibagikan kepada janda, anak yatim dan keluarga yang kurang mampu perekonomiannya.

Masalahnya kini adalah: sampai kapan semua itu bisa bertahan?

Perusakan lingkungan (habitat) terumbu karang di pantai Haruku dan jalur migrasi ikan lompa oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab tetap berlangsung sampai saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah semakin meluasnya perusakan tersebut, termasuk memperkarakannya ke kepolisian dan pengadilan. Namun, semua upaya itu menemui jalan buntu. Seringkali yang menjadi penyebab adalah karena penduduk Haruku hanya rakyat kecil yang tidak memiliki saluran ke pusat-pusat kekuasaan.

Related Projects