Kewang, Kisah Laut dan Ikan Lompa

Negeri Haruku adalah negeri laut. Penuh ikan lompa dan dijaga para kewang.

HARUKU adalah pulau kecil di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Letaknya di antara Pulau Ambon dan Saparua.Pulau ini dapat dicapai dengan speed boat sekitar 20 menit dari pelabuhan Tulehu, Ambon. Gugusan pulau Haruku, Saparua dan Nusalaut dikenal dengan sebutan Kepulauan Lease, tapi Haruku adalah juga nama kecamatan yang membawahi 11 negeri. Luas wilayahnya sekitar 473 Km2 yang terletak 10 kilometer arah timur pulau Ambon.

Secara historis, 11 negeri di Haruku dikelompokan menjadi dua uli atau persekutuan berdasarkan adat-istiadat masyarakat adat setempat. Pertama, Uli Hatuhaha yang merupakan persekutuan lima negeri yang dikenal dengan sebutan amarima hatuhaha atau amarima lounusa. Kelima negeri itu adalah Pelauw, Kailolo, Rohomoni, Hulaliu dan Ori. Semuanya berada disebelah utara Pulau Haruku.

Kedua, Uli Buang Besi persekutuan dari enam negeri Sarani, atau negeri yang penduduknya beragama Kristen. Yaitu Sameth, Haruku, Wassu, Oma, Aboru, dan Kairu. Letaknya berada di selatan pulau, kecuali Kairu. Dulu, Kairu berada di selatan (hutan Aboru dan Awassu), tapi karena ada relokasi pemukiman, mereka dipindahkan.

<!––nextpage––>

 

Berdasarkan data monografi Kabupaten Maluku Tengah, jumlah total penduduk yang berdiam di Pulau Haruku adalah 2.098 Jiwa dengan 530 kepala keluarga (KK).

Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin (2010)

No

Kelompok Umur

Laki-laki (jiwa)

Perempuan (jiwa)

Jumlah

10-4125123248
25-9140114254
310-14124108232
415-198754141
520-24444488
625-298277159
730-346858126
835-395854112
940-444265107
1045-496368131
1150-547067137
1255-594755102
1360-64454590
1465-69251843
1570-74262248
1675+374380
Jumlah 1,0831,0152,098

Sumber: Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, 2010

Sebagian besar yang tinggal di Haruku adalah orang tua, orang dewasa yang sudah menikah dan anak-anak yang bersekolah dari tingkat SD dan SLTP. Remaja dan orang dewasa banyak yang melanjutkan sekolah SLTA dan perguruan tinggi di Ambon dan kota lainnya.

Di Negeri Haruku, masyarakat mempunyai kesadaran akan pendidikan yang tinggi. Ada peraturan adat tentang waktu belajar bagi anak-anak pelajar yaitu mulai 19.00 sampai 20.30 Waktu Indonesia Timur.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan

Jenis Kelamin

Laki-laki

Perempuan

Jumlah (jiwa)

%

Jumlah (jiwa)

%

TK121.30232.37
SD / Sederajat48552.4349751.30
SLTP / Sederajat23625.5122022.70
SLTA / Sederajat16517.8419520.12
Perguruan Tinggi272.95343.51
Jumlah925100969100

Sumber: Pemerintahan Negeri Haruku

 

Adat Haruku

Negeri Haruku adalah wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sebagian masyarakatnya karena itu adalah petani dan nelayan. Saat musim melaut (gelombang tidak tinggi) masyarakat mencari ikan di laut. Sedangkan pada saat musim gelombang tinggi, masyarakat bertani di kebun dan sawah. Sebagian masyarakat yang lain adalah wiraswasta, pengusaha transportasi laut, pertukangan, menjahit, industri rumah tangga dan pegawai negeri sipil (guru).

Mereka semua memegang adat istiadat leluhur mereka. Pakaian adat mereka berupa baju hitam tidak berkancing. Pakaian ini biasanya dipakai oleh kewang ketika memimpin upacara adat. Selain itu, juga menggunakan syal merah dan kain berang (semacam selendang) yang hanya boleh dipakai oleh ketua kewang.

Ada beberapa upacara adat yang masih dilaksanakan oleh Komunitas Adat Negeri Haruku. Antara lain pelantikan raja. Raja baru diangkat sebagai pemimpin adat dan pelantikannya dipimpin oleh tetua-tetua adat yang disebut lalu-pati.

Upacara lainnya adalah panas pela. Yaitu upacara untuk menyatukan hubungan dua negeri. Ikatan Pela artinya ikatan perjanjian. Upacara panas pela saat ini dimaknai sebagai upacara untuk mempererat hubungan keturunan dua negeri.

Ada juga sasi lompa. Yaitu upacara adat untuk memanggil ikan lompa dari laut (karang) ke sungai. Upacara ini dilakukan dalam rangka buka sasi lompa . Dipimpin oleh seorang kepala kewang.

Untuk upacara pernikahan dikenal istilah bayar harta negeri atau berkat. Hal ini dilakukan ketika ada orang Negeri Haruku yang menikah dengan perempuan di luar Negeri Haruku. Berkat dari laki-laki yang dibayarkan ke wanita, berupa kain putih satu kayu (satu gulungan), minuman Jeniver/Sofi, dan uang yang jumlahnya tergantung kemampuan. Adapun tempat pembayaran dilakukan di balileo, melalui prosesi adat yaitu posowari.

Pola kepemilikan tanah di Negeri Haruku juga masih menggunakan sistem adat. Tataruang menurut aturan adat atau jenis-jenis tanah yang dikelola secara adat, ada tiga.

Pertama, tanah dati. Tanah ini dikelola oleh keluarga. Aturan dalam pengelolaan adalah bagi keturunan perempuan tidak boleh mengelola lahan di dusun Dati. Mereka hanya boleh mendapatkan bagian dari hasil perkebunan dan atau pertanian.

Kedua, tanah pusaka, yang dikelola dan menjadi milik marga. Ketiga adalah tanah negeri yang hak kepemilikan pengelolaannya dipegang oleh negeri, biasanya meliputi tanah-tanah rawan dan digunakan untuk keperluan konservasi. Ada aturan, pada kemiringan tertentu tidak boleh digunakan untuk perkebunan.

 

Untuk pengelolaan sumberdaya alam lestari, masayarakat Negeri Haruku memiliki kearifan lokal. Antara lain nanaku. Yaitu pengetahuan masyarakat menentukan lokasi tangkapan ikan. Lokasi tersebut disebut sebagai saaru atau rep. Nama-nama itu sudah ada sejak nenek moyang, Ada nama sair, rurete, oha lau (panjang), oha dara, pasal, wamarima dan rutial.

Secara prinsip, nanaku menandai saaru untuk mengetahui ada tidaknya ikan. Caranya, dengan melihat pasang surut air laut. Jika air laut surut, maka diperkirakan ikan melimpah. Sebaliknya pada saat air pasang, diperkirakan ikan tidak ada. Arus keluar, artinya boleh mencari ikan (memancing). Arus masuk tidak dianjurkan memancing, karena biasanya ikan sedikit atau tidak ada.

Mereka juga percaya dengan tanda alam dan menggunakannya, untuk menentukan lokasi dilaut biasanya dengan melihat tanjung dan gunung sebagai navigasi/patokan. Untuk waktu-waktu baik, mereka mengenal tanati. Mereka percaya, waktu baik untuk beraktifitas ditentukan berdasarkan melihat bulan. Tanati dimulai pada hari ketujuh setelah bulan purnama. Hal yang sama juga berlaku pada saat dari bulan gelap ke bulan purnama. Perhitungan hari pada patokan bulan ini ada kaitannya dengan pasang-surut air laut.

 

Untuk waktu bercocok tanan atau berkebun, masyarakat menggunakan patokan pasang surut air laut. Air pasang tertinggi adalah waktu yang baik untuk menanam. Begitu sebaliknya. Saat penanaman, tidak boleh dilakukan pada saat tengah hari. Masyarakat percaya, bayangan orang yang menanam tidak boleh terkena lubang tempat menaruh bibit karena pada waktu itu binatang buas mengancam dan tanaman bisa dimakan atau dirusak oleh hama, misalnya Babi.

Seperti daerah Maluku pada umumnya, struktur pemerintahan adat di Haruku bertumpu pada ikatan kekerabatan dalam satuan wilayah Petuanan. Dalam Petuanan, terdapat batas-batas wilayah adat (tanah, hutan atau laut) yang menjadi milik bersama di suatu negeri. Hubungan kekerabatan itu terbagi dalam beberapa soa. Yaitu kumpulan marga besar atau klan yang merupakan himpunan dari beberapa mata-rumah (keluarga besar) bermarga sama. Struktur pemerintahan adat di Negeri Haruku, karena itu merupakan dasar pembagian fungsi dan peran secara komunal. Beberapa istilah di dalamnya, dapat dilihat di struktur masyarakat adat Negeri Haruku.

Struktur Masyarakat Adat Negeri Haruku

Haruku KewangSumber : http://www.kewang-haruku.org/struktur.html

Latu Pati adalah Dewan Raja Pulau Haruku, badan kerapatan adat antar para raja di seluruh Pulau Haruku. Tugas utamanya mengadakan pertemuan apabila ada perselisihan antar negeri (kampung/desa) mengenai batas-batas tanah atau hal-hal lain yang dianggap sangat penting. Tapi, para raja tidak boleh memaksakan kehendak masing-masing dan harus mengambil keputusan atas dasar asas kebersamaan dan dengan cara damai.

Raja adalah pucuk pimpinan pemerintahan negeri (pimpinan masyarakat adat). Tugasnya menjalankan roda pemerintahan negeri, memimpin pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh adat & tokoh-tokoh masyarakat, melaksanakan sidang pemerintahan negeri, dan menyusun program pembangunan negeri.

Saniri Besar adalah lembaga musyawarah adat negeri. Lembaga ini terdiri dari staf pemerintahan negeri, para tetua adat dan tokoh-tokoh masyarakat. Tugasnya mengadakan pertemuan atau persidangan adat lengkap kalau dianggap perlu dengan para anggotanya (tokoh adat dan tokoh masyarakat).

Kewang adalah lembaga adat yang dikuasakan sebagai pengelola sumberdaya alam dan ekonomi masyarakat, sekaligus sebagai pengawas pelaksanaan aturan-aturan atau disiplin adat dalam masyarakat. Lembaga ini bertugas menyelenggarakan sidang adat sekali seminggu (Jumat malam), mengatur kehidupan perekonomian masyarakat, mengamankan pelaksanaan peraturan sasi, memberikan sanksi kepada yang melanggar peraturan sasi, meninjau batas-batas tanah dengan desa atau negeri tetangga, menjaga serta melindungi semua sumberdaya alam, baik di laut, kali dan hutan sebelum waktu buka sasi, dan melaporkan hal-hal yang tidak dapat terselesaikan pada sidang adat (kewang) kepada raja dan meminta agar disidangkan dalam Sidang Saniri Besar.

Saniri Negeri adalah Badan Musyawarah Adat tingkat negeri yang terdiri dari perutusan setiap soa yang duduk dalam pemerintahan negeri. Tugas utamanya membantu menyusun dan melaksanakan program kerja pemerintah negeri, menghadiri sidang-sidang pemerintahan negeri, dan membantu Kepala Soa dalam melaksanakan pekerjaan negeri yang ditugaskan kepada soa.

Kapitang adalah Panglima Perang Negeri. Tugasnya mengatur strategi dan memimpin perang pada saat ada perang.

Tuan Tanah adalah kuasa pengatur hak-hak tanah petuanan negeri. Bertugas mengatur dan menyelesaikan masalah-masalah dengan negeri tetangga yang menyangkut batas-batas tanah serta sengketa tanah petunanan yang terjadi dalam masyarakat.

Kepala Soa adalah pemimpin tiap soa yang dipilih oleh soa masing-masing untuk duduk dalam staf pemerintahan negeri. Dia membantu menjalankan tugas pemerintahan negeri apabila raja tidak berada di tempat, memimpin pekerjaan negeri yang dilaksanakan oleh soa, mewakili soa duduk dalam badan pemerintahan negeri; dan menangani acara-acara adat perkawinan dan kematian.

Soa adalah kumpulan beberapa marga. Di Haruku ada beberapa soa yang dibagi menjadi lima. Yaitu soa raja, soa suneth, soa moni, soa lesirohi, dan soa rumalesi. Tugas kumpulan marga ini, melaksanakan pekerjaan negeri bila ada titah (perintah) dari raja melalui kepala soa masing-masing, membantu menangani dan mempersiapkan semua keperluan keluarga anggota soa dalam upacara-upacara perkawinan dan kematian.

Marinyo adalah pesuruh atau pembantu raja. Bertugas sebagai penyampai berita dan titah melalui tabaos (pembacaan maklumat) di seluruh negeri kepada warga masyarakat.

Sasi dan Peraturannya

Perlu diketahui, hukum adat sasi sudah ada sejak dahulu kala. Belum ditemukan data autentik tentang kapan sasi diberlakukan tapi diperkirakan sejak tahun 1600-an, sasi sudah diterapkan di negeri Haruku.

Sasi merupakan aturan adat yaitu larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu dalam waktu yang ditentukan secara adat oleh kepala Kewang sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati. Sasi juga mengatur hubungan manusia dengan alam dan antar manusia. Aturan tersebut pada hakekatnya merupakan upaya untuk memelihara tata-krama hidup bermasyarakat, termasuk upaya ke arah pemerataan pembagian atau pendapatan dari hasil sumberdaya alam sekitar kepada seluruh warga setempat.

Peraturan-peraturan sasi ditetapkan dalam suatu keputusan kerapatan Dewan Adat (Saniri; di Haruku disebut saniri’a lo’osi aman haru-ukui atau pleno Dewan Adat Saniri Negeri Haruku). Hasil keputusan dilimpahkan kewenangan pelaksanaannya kepada lembaga kewang yang terdiri dari Kewang Darat dan Kewang Laut. Ada empat jenis sasi, yang dikenal. Yaitu sasi laut, sasi kali, sasi hutan dan sasi negeri.

Meskipun ketentuan-ketentuan sasi sudah ada sejak lama, ada beberapa tambahan ketentuan baru yang diputuskan dalam rangka mengantisipasi perkembangan zaman. Misalnya untuk sasi kali, ada larangan berperahu motor dengan menghidupkan mesin dalam kali/sungai. Demikian juga halnya dengan ketentuan besarnya jumlah denda pelanggaran dalam bentuk uang tunai, disesuaikan dengan perkembangan ekonomi saat ini.

Contoh lain adalah tambahan peraturan untuk karoro sasi laut yang melarang penggunaan jenis jaring-halus buatan pabrik (karoro). Berdasarkan pengalaman, jenis alat-tangkap ini ternyata sangat merusak karena mampu menangkap semua jenis ikan dalam berbagai ukuran, mirip jaring pukat harimau (trawl).

Demikian pula halnya dengan larangan memanjat pohon bagi kaum perempuan dalam peraturan sasi negeri. Larangan itu diubah dengan memperbolehkan perempuan memanjat pohon asal menggunakan pakaian yang pantas, antara lain, karena pertimbangan bahwa kini tersedia bahan sandang (misalnya, celana panjang) yang juga dapat dikenakan oleh perempuan.

Dalam beberapa hal, sasi bahkan mengatur rinci hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Antara lain soal tempat perempuan dan laki-laki mandi. Aturan semacam ini misalnya bisa ditemui di sasi kali. Di sasi ini, warga juga dilarang mengganggu dan menangkap ikan lompa, dan tidak boleh mencemari kali.

Di sasi laut, ada aturan yang melarang menangkap ikan yang berada dalam daerah sasi dengan menggunakan jenis alat tangkap apa pun. Ikan hanya boleh ditangkap menggunakan jala. Itu pun, tidak boleh dengan menggunakan perahu. Batas kedalaman airnya juga ditentukan hanya setinggi pinggang orang dewasa.

Di sasi hutan, dilarang memanen hasil hutan selama tutup sasi. Kepala Kewang memasang tanda tutup sasi di pinggir hutan sebagai tanda bahwa buah-buahan dan hasil hutan lainnya tidak boleh diambil sampai waktu buka sasi. Waktu buka dan tutup sasi ditentukan oleh Kewang, sebagai pelaksana sasi.

Tutup dan Buka Sasi Lompa

Ikan lompa adalah ikan yang “dihormati” di Negeri Haruku karena bersama ikan make (sardinilla) merupakan hasil laut tahunan. Sungai Learisa Kayeli menjadi habitat ikan lompa pada siang hari dan pada malam hari ikan ini pergi ke laut lepas untuk mencari plankton, sebagai makanan.

 

Bibit atau benih (nener) ikan lompa mulai terlihat secara berkelompok dipesisir pantai Haruku antara bulan April sampai Mei. Pada saat itulah, sasi lompa dinyatakan mulai berlaku atau dikenal dengan istilah tutup sasi. Biasanya, pada usia kira-kira sebulan sampai dua bulan setelah terlihat pertama kali, gerombolan anak-anak ikan lompa mulai mencari muara untuk masuk ke dalam kali.

Kewang sebagai pelaksana sasi memancangkan tanda sasi dalam bentuk tonggak kayu yang ujungnya dililit dengan daun kelapa muda (janur). Itu adalah tanda bahwa semua peraturan sasi ikan lompa sudah mulai diberlakukan.

Artinya, ikan-ikan lompa yang berada dalam kawasan sasi tidak boleh ditangkap atau diganggu dengan alat dan cara apapun, motor laut pun tidak boleh masuk, tidak boleh mencuci dan membuang sampah di kali. Ikan lompa hanya boleh ditangkap dengan kail. Itu pun tidak boleh dilakukan di dalam kali.

Warga yang melanggar peraturan ini akan dikenakan sanksi atau hukuman sesuai peraturan sasi, yakni berupa denda. Anak-anak yang melakukan pelanggaran, akan dikenakan hukuman dipukul dengan rotan sebanyak lima kali yang menandakan bahwa anak itu harus memikul beban amanat dari lima soa (marga besar) yang ada di Haruku.

 

Pada saat mulai memberlakukan masa sasi (tutup sasi), ada upacara yang disebut panas sasi. Upacara ini dilakukan tiga kali setahun, dimulai sejak benih ikan lompa sudah mulai terlihat.

Upacara panas sasi biasanya dilaksanakan pada malam hari sekitar jam 20.00. Acara dimulai pada saat semua anggota kewang telah berkumpul di balileo kewang atau rumah kepala kewang dengan membawa daun kelapa kering (lobe) untuk membuat api unggun. Setelah melakukan doa bersama, api induk dibakar dan rombongan kewang menuju lokasi pusat sasi (Batu Kewang) membawa api induk tadi.

Di Batu Kewang, kepala kewang membakar api unggun, diiringi pemukulan tetabuhan (tifa) yang menandakan adanya lima soa di Negeri Haruku. Pada saat irama tifa menghilang, anggota kewang menyambutnya dengan teriakan sirewei!” (seruan tekad, janji, sumpah). Sesudahnya, kepala kewang menyampaikan kapata (wejangan) untuk menghormati negeri dan para datuk. Menyatakan bahwa mulai saat itu, sasi di laut maupun di darat mulai diberlakukan.

Upacara ini dilakukan pada setiap simpang jalan dimana tabaos (titah, maklumat) dan diumumkan ke seluruh warga dan baru selesai pada pukul 22.00 malam di depan baileo negeri (balai desa) dengan membuang ke laut sisa lobe yang tidak terbakar.

Upacara dinyatakan selesai setelah tanda sasi yang disebut “kayu buah sasi” dipancang. Kayu itu terdiri dari kayu buah sasi mai (induk) dan kayu buah sasi pembantu. Bentuknya mirip tonggak dan dipancangkan pada tempat-tempat tertentu yang menunjukkan luasnya daerah sasi. Di darat kayu-kayu itu diambil dari hutan dan dipancang oleh kepala Kewang Darat. Di laut diambil dari hutan bakau dan dipancang oleh kepala Kewang Laut.

Setelah ikan lompa yang dilindungi cukup besar dan siap untuk dipanen (sekitar 5-7 bulan), kewang dalam rapat rutin seminggu sekali pada hari Jumat malam menentukan waktu untuk buka sasi (pernyataan berakhirnya masa tutup sasi). Keputusan tentang “Hari-H” ini dilaporkan kepada raja negeri (kepala desa) untuk segera diumumkan kepada seluruh warga. Upacara panas sasi yang kedua pun dilaksanakan, sama seperti panas sasi pertama pada saat tutup sasi dimulai.

Bedanya, setelah upacara, kewang melanjutkannya dengan makan bersama dan kemudian membakar api unggun di muara kali Learisa Kayeli pada dini hari. Tujuan untuk memancing ikan-ikan lompa lebih dini masuk ke dalam kali sesuai dengan perhitungan pasang air laut. Biasanya, tidak lama kemudian, gerombolan ikan lompa pun segera berbondong-bondong masuk ke dalam kali. Saat itulah, masyarakat sudah siap memasang bentangan di muara agar pada saat air surut ikan-ikan itu tidak dapat lagi keluar ke laut.

Tepat pada saat air mulai surut, pemukulan tifa pertama dilakukan sebagai tanda bagi para warga, untuk bersiap-siap menuju kali. Tifa kedua dibunyikan sebagai tanda agar semua warga segera menuju kali. Tifa ketiga sebagai tanda bahwa raja, para saniri negeri, juga pendeta, sudah menuju ke kali dan masyarakat harus mengambil tempat masing-masing di tepi kali. Rombongan kepala desa tiba di kali dan segera melakukan penebaran jala pertama, disusul oleh pendeta, dan sesudahnya, semua warga masyarakat, bebas menangkap ikan-ikan lompa.

Sasi ini biasanya dibuka satu sampai dua hari kemudian segera ditutup kembali dengan upacara panas sasi. Catatan penelitian dari Fakultas Perikanan Universitas Pattimura pada saat pembukaan sasi tahun 1984 menunjukkan, jumlah total ikan lompa yang dipanen pada tahun tersebut kurang-lebih 35 ton berat basah. Jumlah sebanyak itu jelas merupakan sumber gizi yang melimpah, sekaligus tambahan pendapatan yang lumayan bagi seluruh warga negeri Haruku. Ikan hasil tanggapan diprioritaskan terlebih dahulu untuk dibagikan kepada janda, anak yatim dan keluarga yang kurang mampu perekonomiannya.

Masalahnya kini adalah: sampai kapan semua itu bisa bertahan?

Perusakan lingkungan (habitat) terumbu karang di pantai Haruku dan jalur migrasi ikan lompa oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab tetap berlangsung sampai saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah semakin meluasnya perusakan tersebut, termasuk memperkarakannya ke kepolisian dan pengadilan. Namun, semua upaya itu menemui jalan buntu. Seringkali yang menjadi penyebab adalah karena penduduk Haruku hanya rakyat kecil yang tidak memiliki saluran ke pusat-pusat kekuasaan.

Kewang, Story of the Ocean and Lompa Fish

Negeri Haruku is a land of ocean. It fills with lompa fish and protect by the kewang.

Haruku is a small island in Central Maluku Regency, Maluku. It is located between Ambon Island and Saparua. The island can be reached by a speed boat in 20 minutes from Tulehu Harbor, Ambon. The cluster of Negeri Haruku, Saparua and Nusalaut is famously known as Lease Archipelago, yet Haruku is also the name of a district which regulates 11 negeri (hamlets). The size of the land is 473 km2 and located within 10 Km in the east of Ambon island.

Historically, 11 negeri in Haruku are categorized into two uli or interalliance based on local customs of the people. First, Uli Hatuhaha is an alliance for five negeri, prominently recognized as amarima hatuhaha or amarima lounusa. The five negeri are Pelauw, Kailolo, Rohomoni, Hulaliu and Ori; these hamlets stayed on the northern side on Negeri Haruku.

Second, Uli Buang Besi is and alliance consists of six negeri of Sarani; the hamlets of which the inhabitants are practicioners of Christian. The six negeri (hamlets), namely Sameth, Haruku, Wassu, Oma, Aboru, and Kairu. It located in the southern side of the island, except for Kairu. In the past, Kairu was laid on the south (Aboru and Awassu forest), but due to relocation of settlement area, the people were moved out.

According to monographic data of Central Maluku Regency, the population in Negeri Haruku reaches 2,098 inhabitants with 530 households.

The Number of Inhabitants Based on Age and Gender (2010)

NoAge GroupMenWomenTotal
10-4125123248
25-9140114254
310-14124108232
415-198754141
520-24444488
625-298277159
730-346858126
835-395854112
940-444265107
1045-496368131
1150-547067137
1255-594755102
1360-64454590
1465-69251843
1570-74262248
1675+374380
Grand Total 1,0831,0152,098

Source: Officials of Central Maluku Regency, 2010

Most of people who live in Haruku are elderly people, married adults and schoolchildren who attend Elementary School to Junior High School. Teenagers and adults pursue a higher education to High School and College in Ambon or other cities.

In Haruku, people hold a strong awareness for higher education. A customary rule forstudying time applied to the schoolchildren, it starts from 19.00 to 20.30 WITA.

The Total Number of People Based on Education Level.

Education LevelGender
MenWomen
Total%Total%
Pre-elementary School121.30232.37
Elementary School48552.4349751.30
Junior High School23625.5122022.70
Senior High School16517.8419520.12
College/University272.95343.51
Total925100969100

Source: Officials of Negeri Haruku

 

 

Customs in Haruku

Negeri Negeri Harukuconsists of coastal area and small islands. Therefore, the majority work as farmers or fishermen. When it comes to fishing season (low wave intensity), the people will be sailing to fishing on the sea but when the season possesse a high wave intensity, the people will be farming on the cropped land or rice field. Some other people work as entrepreneurs, owners of ocean transportation, craftmen, tailors, home industry and public servants (as teachers).

They are obedient to the customs made by their ancestors. Their customary clothing is black suit without button. This suit generally wears by the kewang when he leads a ritual. Besides that, the kewang also wears a red shawl and berang (a kind of scarf); this sort of outfits can only be worn by the head of kewang.

Indigenous community of Negeri Haruku still practice on some rituals. There are king enthronization; a new king appointed as the head of community and his enthronization was led by elders who commonly called as lalu-pati.

The other ritual is panas pela, a ceremony to unite the relation of two negeri. Pela bond means treaty bond. The panas pela presently meant to be a ceremony to tightening the relation between descendants of two negeri.

There is a ritual called sasi lompa, it plays a role to conducively bring lompa fish off of the ocean (coral) to the river. This ritual is conducted in purpose of opening sasi lompa and led by the head kewang.

A marriage ceremony is known as bayar harta negeri or berkat. This is done when the people of Negeri Haruku get married with women from outside Haruku. Berkat from the man is paid to the woman, it is a roll of white fabric, Jenifer/Sofi beverage, and some amount of money (depends on the capability of the man), The place for marriage is in balileo and it uses a custom procession named posowari.

Land ownership system in Negeri Haruku is still based on customary system. According to the law, there are three layouts or types of land that governed under the custom.

The first is tanah dati. It is managed by families. The main rule of management is that girls cannot contribute to manage the land in Dati hamlet. They only get a half of farming or plantation crops.

The second, tanah pusaka which has been governed and become communal property. The third is tanah negeri in which rights of ownership is held by the state, it usually includes disturbed lands and use under conservatory needs. This land cannot be utilized for permanent cropland if it stands in a particular declivity.

For the sustainable natural resources management, the people of Negeri Haruku have their own local wisdom, it is known as nanaku. Nanaku is a knowledge possessed by the people to determine the site to fishing. The site is called saaru or rep. Other names of location are sair, rurete, oha lau (long), oha dara, pasal, wamarima and rutial; these names have been familiarly used since the ancestor era.

Principally, nanaku pointed saaru to determine whether a place contains a large amount of fish. There are ways to do it, by looking at the tidal of the sea; if the water lessened, then the fish will be plentiful. Otherwise, if the water has risen, there will not be any fish. Arus keluar (flow out), means it is allowed to whip the sea (fishing). Arus masuk (flow in) means it is recommended to not doing any fishing activities due to only few or even no fish available.

They also believe and use the signs of nature to determine locations in the sea, usually by looking through the cape and mountain as the navigation/pole. In a good time, they are familiar with tanati. They believe, the good time to work is determined by observing the moon. Tanati is starting from the seventh day of full moon. The same matter is valid whenever the dark moon shifting to full moon. The days count in this pole of this month is related to the tidal of the sea.

For the exact time of planting or farming, the people use the tidal as a standard. The highest water is a good time for planting and it apllied conversely. The planting cannot be worked in the middle of the day. The people convince that the shadow of whoever doing the planting cannot touch the seeding hole because at that time, the threathen from wild animals and the plants will be eaten or depraved by pests, such as pigs.

Like the regions in Maluku in general, the customary governmental structure in Haruku is concentrate on relationship bond in Petuanan regional unit. In Petuanan, there are boundaries of customary lands (land, forest or ocean) that mutually owned in one region. Relationship bond is divided into several soa, the association of a large clan that gathered from mata-rumah (large family) with the same cognomen. Customary governmental structure in Negeri Haruku is a form of basic function and role distribution communally. Some terms can be seen from the structure of indigenous people of Negeri Haruku.

Structure of Indigenous People in Negeri Haruku.

Source: http://www.kewang-haruku.org/struktur.html

Latu Pari is a Privy Council of Negeri Haruku, a customary density corporation among the kings over Negeri Haruku. Its main duty is to held a meeting if there were a conflict in the regions (rural area/village) regarding the land boundaries or other things that considered important. But, the kings cannot force their will and have to make decisions based on mutual principle and tranquilly.

Raja (the King) is the leader of negeri’s administration (the leader of indigenous community). His tasks are running the circle of negeri’s administration, leading a meeting with customary and community figures, implementing region’s governmental session, and arranging region’s developmental program.

Sahiri Besar is Haruku’s costumary conference institution. It is composed of governmental staffs, elders, and public figures. Its duty is to organize a meeting or comprehensive customary session, in case of necessity, with all the members (custom and public figures).

Kewang is a custom institution authorized as a manager of natural resources and economy of the community, also as a supervisor of the rules and customary subject implementation in the pubic. It also works on carrying a weekly customary session (on Friday night), regulating economic life of the community, securing sasi rules realization, giving a sanction for those who break the rules, reviewing land boundaries with the village or neighbor region, protecting and preserving all natural resources, and reporting unresolved case in customary session (kewang) to the king and request to be courted in Saniri Besar Session.

Saniri Negeri is a Customary Conference Institution in village level, it consists of delegation of every soa. The main duties including assissting the arrangement and implementation of work program of the region, attending the region’s governmental sessions, and helping Head of Soa in carrying region’s assignment that has been assigned to him.

Kapitang is the Battle Commander of Region. His assignment is to arrange a strategy and lead the war in the battlefield.

Tuan Tanah has a control over land rights regulation in the region. He serves to manage and resolve conflicts with neighbor region related to land bounds and land dispute that occurs in the public.

Kepala Soa is a leader of every soa who has been elected by each soa to occupy as a governmental staff of region. He is in charge to running the governmental order of region if the king is not in place, leads the tasks region that work by soa, represents soa to be in the governmental region corporation; and handle wedding or mortality ceremony.

Soa is an association contains clans. In Haruku, there are a numbers of soa that divided into five types; soa raja, soa suneth, soa moni, soa lesirohi, and soa rumalesi. The duty of this clan association is to execute region’s assignments if they are given orders (command) from the king via Kepala Soa, help to handle and prepare all familie member of soa’s necessity in wedding and ceremony and funeral.

Marinyo is a king’s messenger or helper. He serves to deliver message or order through tabaos (an announcement) in the region to all the people.

Sasi and the Rules

It is ought to know the sasi customary law has been valid since the yore. There has not been authentic data about the date of validation of sasi but it is approximately has been valid since 1600s that sasi has been applied in Haruku.

Sasi is a customary law, it regulates the prohibition to substract certain natural resources products traditionally for a certain period of time by the head of Kewang as an effort of conservation to keep the quality and population of biological resources. Sasi also regulates the relations between people and the nature and people with other people. The rule itself is a way to preserve the etiquette of community living, including the way of the average distribution of sharing and revenue from natural resources products for the local community.

The rules that contained in sasi were defined in a decision kerapatan by Customary Council (Saniri; in Haruku it is called as saniri’a lo’osi aman haru-ukui or plenary of Saniri Customary Council of Haruku Region). The final decision was given the authority for implementation to kewang institution that consists of Ground Kewang and Ocean Kewang. There are four kinds of commonly known sasi, namely sasi ocean, sasi river, sasi forest, and sasi negeri.

Although the stipulations of sasi have been existed a long time ago, there are some additional stipulations that recently determined by due to anticipate period evolution, e.g. for sasi river, there is a prohibition to turn on mechanical boat on the river/stream, as well as how much fine if it paid by money for each violation, it depends on the present economic growth.

Another example is an additional rule for sea karorosasi that prohibit the usage of smooth net made by a company (karoro). Based on the experience, this type of net was causing damages as it can catch all species of fish in various size, it resembles trawl (pukat harimau net).

The regulation in sasi negeri that prohibit women to climb a tree has changed, the women are now allowed to climb a tree but they have to wear proper suits due to a consideration that in present day, proper clothing has available (e.g. long trouser) which can be worn by women.

In some aspects, sasi even regulates the details of permitted and forbidden activities. It is regarding the bathing place for women and men, this rule generally found in sasi river. The people are forbidden to intrude and catch lompa fish and they are prohibited to contaminate the stream.

In sasi ocean ocean, there is a rule that prohibit to capture fish within sasi area by using any kind of tools. The fish can only be caught by casting net with an additional condition not to use a boat and watershed as high as adults’ waists.

In sasi forest forest, it is prohibited to harvest forest’s crops during the sasi closing period. The head of Kewang put a closing sign of sasi in the border of the forest as a token that the fruits and other crops are not allowed to be harvested till the opening session. The closing and opening season are determined by Kewang, as the implementer of sasi.

The Closing and Opening of Sasi Lompa

Lompa fish is an “honorary” fish in Haruku Region and along with make fish (sardinilla) is an annual sea product. Learisa Kayeli River becomes a habitat for lompa fish on mid days and on the night it will be gone to the sea to hunt plankton as its prey.

Seeds or germs (nener) of lompa fish start to appear in a grouping on the coastal of Haruku beach from April to Mei. In this period, sasi lompa is started to begin, it is known as tutup sasi. Commonly, rising one or two month after its first appearance, the group of lompa fish’s offspring starts to look for downstream as an entrance to the stream.

Kewang as an executor of sasi put a sign of sasi in a form of wooden crossbar which its lower end is twisted by coconut leaves (janur). This means, that all rules of sasi lompa has starting.

It means, lompa fish that stay in sasi area cannot be caught or interfered by tools or any kind of ways, machine boat is not allowed to enter, it is forbidden to throw waste or washing in the river. Lompa fish can only be caught by a hook and it cannot be done in the river.

The people who break this rule will be given a sanction or punishment in accordance with sasi regulation, the sanction is to pay fine. The children who violate the rule will be given a punishment, they will be hit by rattan for five times which indicates the children have to carry the mandate from five soa (large clan) that live in Haruku.

When sasi period has come (tutup sasi), there is a ritual called panas sasi. It is held thrice a year, starting from first appearance of lompa fish germs. This ritual usually takes place in the night, in around 20:00. It starts when all members of kewang have united in balileo kewang or the resident of head of kewang by bringing dry coconut leaves (lobe) to create bonfire. After a communal praying, the fire and the group of kewang go to the central location of sasi (Batu Kewang) and bringing the prime fire.

In Batu Kewang, the head of kewang burns bonfire, escorts by drummer of percussion instruments (tifa) which signifies that there are five soa in Haruku Region. When the music has gone, the members of kewang welcome it by screaming “sirewei!” (exclamation of willpower, promise, oath). After that, the head of kewang delivers kapata (pontificate) to respect the region and the oldest male in the family clan. And informs that starting from that time, ocean and sasi ground have starting.

This ritual is running along the branch road where tabaos (order, declaration) announces to all the people and will be finished on 22.00 in front of baileo negeri (public hall) by throwing the rest of lobe that doesn’t burn down.

The rite will be ended as the stake of sasi wooden has been piled. The wood consists of sasi mai wood (prime) and sasi pembantu wood. The shapes resemble a crossbar and it stakes out on a certain places to mark the vast area of sasi. In the ground, the woods are taken from forest and piled by the head of Ground Kewang. In the sea, the woods are taken from mangrove forest and piled by the head of Ocean Kewang.

After the protected lompa fish have grown bigger and ready to be harvested (around 5-7 months), kewang in a weekly routine meeting on Friday night, determined the time for buka sasi (the end of sasi tutup). Decision on “D-day” is reported to the king of region (chief village) to be announced immediately to all the people. The second panas sasi rite is held equally to the first one in the beginning of tutup sasi.

The differences is on the activity after ritual, kewang will continue the ritual by having eat together and then create bonfire around the downstream of Laerisa Kayeli in the dawn. The purpose of these is to catch lompa fish which, according to the tidal count, enter the stream early. Usually, not long after that, a bunch of lompa fish swarm to the stream. At that time, the people are ready to set a net in the downstream so that the fish will not be gone to the sea.

Appropriate with the lessened of the sea, the first blow of tifa is done as a sign for the community to get steady to go to the stream. The second tifa is sounded as a sign for the community to go to the stream. The third tifa as a sign that the king, the saniri of region and the priest have gone to the river and that the people have to take place on the edge of the river. The king’s group arrives at the river and immediately spread the first net, followed by the priest, and after that, all the people are free to catch lompa fish.

This sasi usually opens for one to two days later and will be closed by panas sasi ritual. The observation record from Fishery Faculty of Universitas Pattimura in the opening of sasi in 1984 shows the total amount of lompa fish has been caught that year thereabouts 35 tons gross weight. This amount is actually a rich source of nutrition, it also becomes an adequate additional income for all people of Haruku region. The caught fish prioritized the widow first, orphan and economically incapable families.

Now, the problem is: till now will it be lasted?

Environment impairment (habitat) of coral reef in Haruku beach and migration line of lompa fish by carefree parties is still going on till now. Many kinds of efforts to prevent the impairment extension, including bring it up to the police and court. But, the efforts seem meaningless. Oftentimes, this caused by the lack of connection between the people of Haruku and the parties that may have strong influence toward it.

 

Related Projects