Ketika Musim Buah Mulai Berubah

 

Dua tahun lalu musim buah masih berlimpah. Tahun ini sedikit jumlah dan jenis buah yang ditemukan, dan menyebar tidak merata.

MUSIM buah bagi Orang Rimba Jambi di hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD), Sumatera adalah musim yang menyenangkan. Para lelaki akan sibuk membuat benuaron, pondok di hutan. Anak-anak, perempuan akan riang gembira. Musim buah yang berlimpah mereka sebut petahunon godong. Musim buah yang berkurang mereka sebut petahunon meralang. Tapi apa pun musimnya, mereka terus memungut dan mengumpulkan buah. Sebagian untuk dikonsumsi sendiri, sebagian untuk dijual. Ketika buah durian sangat berlimpah, Orang Rimba akan mengolahnya menjadi lempuk (sejenis dodol) dan joruk (asam durian/tempoyak).

Lempuk Durian, makanan khas Orang Rimba saat musim buah.

Lempuk Durian, makanan khas Orang Rimba saat musim buah tiba.

Musim buah biasanya terjadi diawal tahun, tapi tidak pasti terjadi setiap tahun. Ketika musim durian tiba, Orang Rimba akan menunggu di benuaron. Menunggu durian labuh (jatuh) sembari mengumpulkan beberapa jenis buah lainnya. Mereka juga mengurangi kegiatan ke luar hutan seperti yang biasa mereka lakukan setiap pekan untuk membeli perlengkapan dan bahan-bahan makanan seperti beras dan sebagainya sambil menjual hasil alam ke pedagang penampung di sekitar desa interaksi atau penyangga TNBD. Gejala ini terlihat ketika musim petahunon godong.

Itulah musim yang diharapkan Orang Rimba terjadi setiap tahun. Di Kejasung Besar, setiap kali musim buah datang, Orang Rimba akan setiap hari dari pagi sampai sore bepergian mengambil buah. Laki-laki maupun perempuan yang membawa beberapa ambung besar (tempat membawa barang), menyebar ke semua penjuru rimba. Setelah ambung penuh berisi, mereka akan kembai ke pondok (sonsudungon) masing-masing. Sebagian ada yang tetap tinggal di sekitar ladang durian sambil berburu binatang, membuat lempuk dan asam durian, mengumpulkan manau, dan mencari jernang.

Disela-sela kesibukan mencari buah, para perempuan terlihat rajin membuat anyaman tikar dan ambung besar di sonsudungon, pondok tempat tinggal sementara yang di bangun ketika mereka belangun dan bermalam di hutan. Tikar dipergunakan mereka untuk alas tidur dan ambung di pergunakan mereka mengangkut barang seperti buah-buahan. Para laki-laki terlihat sibuk mengangkut manau selain mencari buah, menangkap ikan dan berburu binatang.

Seorang remaja Orang Rimba membawa Ambung Besar untuk mengumpulkan buah yang berjatuhan (labuh).

Seorang remaja Orang Rimba membawa Ambung Besar untuk mengumpulkan buah yang berjatuhan (labuh).

Anak-anak rimba terutama laki-laki ikut serta mencari buah. Tidak jarang mereka bergelayutan diatas pohon ataupun ukar (tali pohon) untuk memungut buah-buahan. Mereka tangkas dan cepat memanjat pohon. Berlompatan dan bergantungan di tali pohon (ukar).

Ada beberapa buah yang pantang dimakan mereka. Antara lain ridon, kemang, ramanai, ranggung, durianmarok, kepesung, dan punti. Orang Rimba percaya, anak-anak yang memakannya akan mudah sakit karena buah-buah itu adalah bedewo (dijaga para dewa) sehingga tidak baik dimakan oleh anak-anak. Setiap orang tua Orang Rimba wajib memberitahukan kepercayaan ini kepada anak-anak mereka. Apabila orang tua mereka atau orang lain memberikan buah-buah itu dan anak-anak yang memakannya sakit atau meninggal, maka orang yang memberikan buah dikenakan denda.

Berbeda dengan anak-anak laki-laki, kaum perempuan Orang Rimba lebih suka mencari buah bekil dan buah durian. Mereka percaya buah bekil adalah buah khusus untuk kaum perempuan. Laki-laki yang memakannya akan disebut orang tamak (jenton jengki). Mereka akan ditertawakan, diejek dan dihina para perempuan.

Di Kejasung Besar, memang banyak ditemukan jenis buah musiman. Mulai dari durian, rambutan, duku, rambai hutan, bedaro, tampui, manggis, gelugur, benton, buntor, asam, bekil, cempedak, surion dan lain-lain.

Beberapa nama buah itu belum tersedia di pasar modern atau tidak ada di tempat lain,dan karena itu masih banyak menggunakan bahasa local, meskipun beberapa species buah terdiri dari genus yang saling berkerabat dan memiliki klasifikasi ilmiah. Beberapa jenis buah endemik ini juga semakin sulit ditemukan di luar rimba TNBD karena tergusur oleh berbagai jenis tanaman budidaya, seperti sawit, hutan tanaman industri, dan perladangan masyarakat luar,yang dianggap lebih bernilai ekonomis. Sebagian, varietas tanaman tersebut hilang karena deforestasi, degradasi, kebakaran hutan dan konversi lahan hutan menjadi areal pertambangan.

Kini, keadaan banyak berubah. Dua tahun lalu mereka masih menghadapi musim buah yang berlimpah. Tahun ini musim petahunon meralang yang datang. Sedikit jumlah dan jenis buah yang ditemukan, dan menyebar tidak merata di sekitar hutan TNBD. Antara wilayah yang satu dengan lainnya juga berbeda.

Di Kejasung Besar di utara misalnya, musim buah datang lebih cepat dibanding di Kedundung Muda dan Makekal di yang terletak di utara dan barat. Orang Rimba dari selatan yang sedang melangun di wilayah utara, dan mereka yang menetap di sana, menikmati musim buah lebih dahulu dibanding wilayah lainnya. Tapi, Orang Rimba di seluruh wilayah, baik selatan maupun utara TNBD sepakat, musim buah tahun ini termasuk petahunon meralang.

Dulu, Orang Rimba di Kedundung Muda beranggapan, jika tahun ini di Kejasung Besar sangat banyak buah, maka dipastikan tahun depan akan terjadi petahunon godong di Kedundung Muda dan bahkan semua rimba yang berada di TNBD. Sekarang keadaan berubah.

 

Mereka percaya, musim buah yang tidak merata dan tidak teratur dirimba bukan disebabkan oleh banyaknya binatang pengganggu seperti cegak, boruk (Macaca Fascicularis), simpui/simpai (Presbytis Melalophos), siamang (Symphalangus Syndactylus), beruang madu (Helarctos Malayanus), dan lain-lain. Berapa pun banyaknya binatang-binatang itu memakan buah, bila memang akan terjadi petahunon godong, maka pepohonan akan memiliki bakal buah atau putik yang berlimpah.

Kesimpulan mereka, perubahan musim yang sulit ditebak menjadi penyebabnya. Musim penghujan datang, tapi panasnya tidak berbeda dibandingkan dengan musim kemarau. Musim sudah tidak teratur dan hal itu mungkin terjadi karena disebabkan semakin banyaknya perambahan dan perubahan alih fungsi lahan rimba, belukar tua. Sesap telah berubah perkebunan sawit dan perladangan karet skala luas disekitar penyanggah selatan maupun barat TNBD.

Kesimpulan ini bukan omong kosong. Tanda-tandanya bisa diketahui dari migrasi binatang. Semua binatang yang terusir, berlarian masuk rimba di TNBD, bersaing dengan Orang Rimba. Tanaman ubi kayu mereka dan tanaman lainnya menjadi mangsa binatang seperti cigak, boruk dan sebagainya. Pucuk daun anak parah (anak tanaman karet /Hevea braziliensis) juga menjadi santapan binatang. Putik dan buah-buahan yang belum matang, ikut digasak.

Perubahan semacam itu kemudian tak hanya berdampak pada jumlah buah yang bisa dipungut setiap kali musim buah tiba, melainkan juga mulai menghilangnya buah endemik. Sebagian masih ditemukan oleh Orang Rimba tapi sebagian yang lain jelas terancam hilang.

Maka benar kata Orang Rimba: alam mestinya dijaga dengan baik dan dikelola secara bijaksana.

Mereka menggantungkan hidup pada hutan, tapi tidak mengekstraksi dan mengeksploitasi hutan secara serampangan. Turun-temurun mereka belajar,bahwa apabila manusia bijaksana pada alam, alam pun akan selalu memberikan kemurahan, perlindungan dan penghidupan manusia.

Related Projects