Upaya perlindungan kawasan hutan di Kajang diatur melalui pasang ri kajang. Pesan leluhur yang diturunkan secara lisan kepada Ammatoa. Menjadi acuan seluruh warga, dan mencakup seluruh perikehidupan warga Kajang.

KOMUNITAS Ammatoa Kajang adalah salah satu komunitas adat tertua di Sulawesi Selatan. Mereka hidup dan menetap di kawasan yang disebut Kawasan Ammatoa Kajang yang terletak Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Mereka dikenal luas karena konsistensinya menolak modernisasi dan tetap menjaga adat istiadat termasuk menjaga hutan yang tetap lestari hingga saat ini.

Meski pengaruh Makassar masih cukup terasa dalam bahasa, suku Ammatoa Kajang berbeda dengan suku Bugis maupun Makassar. Mereka umumnya dikenal sebagai etnis Konjo, yang menyebar di pegunungan dan pesisir di Tana Toa. Desa ini memiliki delapan dusun. Dihuni oleh 957 kepala keluarga dengan populasi 4.024.

Kawasan Ammatoa Kajang sendiri berada di empat dusun yaitu Dusun Benteng, Sobbu, Pangi dan Balambina, dengan pusat pemerintahan adat berada di Dusun Benteng. Kawasan adat inilah yang dikenal luas sebagai Kajang Dalam, meski orang Kajang sendiri menyebutnya rambang seppang, sementara wilayah pengaruh Ammatoa Kajang bagian luar kawasan disebut rambang luara.

Ada empat sungai memagari Tana Toa. Di timur ada Sungai Limba, di barat Sungai Doro, di utara Sungai Tulia dan Sungai Sangkala di selatan. Keempat sungai itulah yang dijadikan pagar (emba) pembatas kawasan ilalang embaya atau dalam pagar, dengan ipantarang embaya atau di luar pagar meski sampai sekarang, luas kawasan Tana Toa termasuk di dalamnya hutan adat Kajang masih menjadi kontraversi. Pemerintah Daerah Bulukumba, berdasarkan SK No.504/kpts-II/1997 menetapkan luas kawasan Tana Toa 331,17 hektare. Rinciannya: Tana Toa I seluas 310,59 hektarea, Tana Toa II seluas 6 hektare, Tana Toa III 12,58 hektare dan sisanya untuk Tana Toa IV. Problemnya, pihak Ammatoa memiliki klaim yang berbeda untuk soal luas kawasan mereka yaitu seluas 374 hektare.

Ammatoa, pemimpin spiritual tertinggi masyarakat Kajang membagi hutan menjadi dua bagian: borong karamaka atau hutan yang dikeramatkan atau hutan terlarang. Letaknya di Dusun Benteng dan di bagai menjadi tujuh: borong tode, borong naraka, borong karanjang, borong katintinga, borong sobbu, borong campaga puang dan borong topalo. Hutan ini terlarang dimasuki atau masyarakat setempat menyebutnya kasimpalli. Luasnya diukur dan dicatat.

Kasimpalli berarti larangan untuk menganggu flora dan fauna yang ada di hutan. Tujuannya, untuk melindungi borong karamaka. Mereka percaya, hutan itu sebagai kediaman leluhur (pammantanganna sikamma tau rioloanta), tempat melantik Ammatoa (appadongko’ laparuntu pa’nganro), dan akarnya memperbanyak air, daunnya mendatangkan hujan (aka’ kajunna appakalompo tumbusu raung kajuna angngonta bosi).

Ada juga yang disebut borong battasaya atau hutan di perbatasan. Terletak di perbatasan tiga desa, yaitu Desa Bonto Baji, Desa Pattiroang dan Desa Tana Toa. Di hutan ini warga komunitas dibolehkan mengambil kayu (menebang pohon) dengan syarat-syarat tertentu.

Bagi warga Kajang, baik borong karamaka ataupun borong batasayya memiliki nilai sakral yang sama yaitu sebagai hutan keramat yang tak boleh terjamah oleh siapa pun.

Hutan Kajang dapat dikategorikan sebagai hutan tropis. Menurut Galla Puto, juru bicara komunitas, di kawasan hutan Kajang terdapat sejumlah tanaman khas. Nntara lain kayu nannasa (bitti), uhe (rotan), erasa (beringin), tokka, kaju katinting, pala-pala (pala hutan), ropisi, sattulu (ketapi), rao (zaitun), langsat, bilalang, taru, pakis, asa, oro’ (bamboo) dan anggrek, yang diperkirakan endemik hutan ini. Jenis yang banyak ditemukan adalah anggrek bulan, dan anggrek macan. Ada beberapa tanaman khas lainnya, tapi enggan disebut karena sangat disakralkan.

Di luar tanaman, hutan Kajang juga menyimpan beragam fauna. Yang sering ditemukan adalah soko (rusa), turi (monyet hitam), ular saha (anakonda), lompo bangngi (babi hutan), manu kala (ayam hutan), burung jikki, kelelawar, cikong-cikong (gagak), kulu-kulu, bangau, alo, berbagai jenis ular, bukkuru (tekukur) dan lebah hutan. Di sungai di tengah hutan, hidup berbagai jenis ikan, udang dan kepiting, yang hanya bisa diambil pada saat ritual adat tertentu.

Semua jenis flora dan fauna itu terlarang bagi siapa pun untuk mengambilnya dan warga pun takut untuk mengambil. Bukan hanya karena ada sanksi adat tapi karena diyakini memiliki pantangan yang bisa berakhir dengan kesialan turun-temurun dan bahkan terusir dari kampung. Hanya ikan, udang, kepiting dan madu hutan yang bisa diambil warga. Itu pun diperuntukkan untuk ritual adat dan keagamaan.

Pemanfaatan hutan di komunitas ini pada dasarnya tidak secara langsung. Pemanfaatannya, semisal mata air hanya dipergunakan untuk keperluan rumah tangga dan pertanian. Selebihnya, hutan lebih banyak digunakan untuk kepentingan ritual adat. Prinsip ini dipegang teguh, karena warga komunitas, hutan tidak dilihat sebagai sumber ekonomi, ekosistem, wisata maupun untuk penyedia karbon berbasis proyek. Mereka menjaga hutan karena taat pada aturan adat. Ujung-ujungnya tentu untuk menjaga keseimbangan alam yang lesatri.

Upaya perlindungan kawasan hutan di Kajang diatur melalui apa yang disebut pasang ri kajang, yaitu pesan leluhur yang diturunkan secara turun-temurun secara lisan kepada Ammatoa. Pasang ini menjadi acuan warga, tidak hanya terkait pengelolaan hutan tapi juga mencakup seluruh perikehidupan warga Kajang.

Ketentuan pasang ri kajang antara lain menyebutkan, kalau tidak ada pepohonan, tanah akan longsor dan air akan naik atau banjir. Disebutkan pula, hutan adalah paru-paru bumi dan setiap pohon, daunnya berfungsi memanggil hujan dan akarnya berfungsi menahan air. Apabila pokok yang ada dalam hutan atau ladang ditebang, hujan akan berkurang dan mata air akan hilang (kering).

Bagi masyarakat adat Ammatoa Kajang, hutan adalah tempat para leluhur mereka. Hutan dijaga dan dilestarikan karena bernilai historis, yang mengingatkan mereka akan asal usul dan kebesaran para leluhur. Pemanfaatan hutan untuk ritual adat, kebutuhan ekonomi, membangun rumah, dan membuka kebun diperkenankan asal memenuhi aturan yang ditetapkan pasang dan harus seizin Ammatoa. Persetujuan Ammatoa didapat melalui permohonan yang disampaikan langsung kepada Ammatoa dan pengurus adat lainnya.

Diakui oleh Ammatoa, pelanggaran dalam pengelolaan hutan oleh warga di rambang seppang sangat jarang terjadi karena sanksi adat yang akan mereka terima, dan kepercayaan akan kekuatan gaib yang melindungi hutan. Menurut Galla Puto, hutan di Kajang pada dasarnya telah diselubungi dengan kekuatan gaib yang diistilahkan sebagai passau, atau telungkup gaib yang menaungi seluruh hutan. Para galla, diakui turut menjaga hutan dari para penyusup. Bila seseorang melanggar dan tidak bersedia menerima sanksi, maka sanksi akan melekat hingga tujuh turunan.

Ammatoa meyakini ada keterkaitan antara hutan yang terjaga dengan kondisi musim. Batang-batang pohon dipercaya memiliki peran untuk memanggil hujan, akar-akar pohon menjaga air untuk tetap mengalir dari sela-selanya. Tanaman-tanaman yang tetap terjaga, anggrek-anggrek yang tak pernah tersentuh menjadi nutrisi dan sumber hara bagi seluruh habitat yang ada dalam hutan. Ammatoa karena itu melarang pengambilan pohon-pohon yang sudah tumbang karena kelak akan menjadi pupuk yang menjaga kesuburan tanah.

Ammatoa juga berkepentingan menjaga hutan karena menjadi tempat membaca tanda-tanda alam. Dia mampu membaca peristiwa-peristiwa penting di masa yang akan datang melalui pesan-pesan yang disampaikan oleh alam. Burung-burung tak bisa dibunuh karena dari perilakunyalah akan bia diketahui perisitwa yang sedang atau akan terjadi. Ammatoa dan sebagian warga Kajang bahkan mengenali waktu dari bunyi-bunyian di sekitar mereka.

Nasi dan Mi Instan

Upaya perlindungan hutan berbasis masyarakat adat di kawasan adat Kajang hingga saat ini masih sangat efektif dijalankan. Upaya ini tak begitu sulit dilakukan karena ada mekanisme adat yang berlaku dan masih sangat kuatnya keyakinan masyarakat akan kekeramatan hutan Kajang.

Tantangan terbesar yang mungkin dihadapi adalah desakan dari luar, yang terkadang mencoba memaksakan modernisasi kawasan dengan alasan pariwisata. Sejauh ini, Ammatoa tetap teguh menolak. Pertentangan terkadang terjadi ketika pemerintah daerah mencoba memaksakan kehendak melalui kepala Desa Tana Toa yang terkadang tidak sejalan dengan pemikiran Ammatoa.

Contoh, pembangunan replika rumah adat Kajang di luar kawasan. Pembangunan rumah adat ini sejak awal sudah ditolak Ammatoa karena desain dan bahan yang digunakan jauh dari gambaran rumah adat yang sesungguhnya termasuk jenis kayu yang digunakan. Masalah lain ketika rumah adat ini juga akan memasukkan listrik, sesuatu yang masih sangat ditentang oleh Ammatoa.

Terkait pengelolaan hutan, masalah dan tantangan ke depan memiliki potensi yang besar. Perbedaan klaim luas kawasan antara pemerintah dan Ammatoa adalah bukti bahwa pemerintah belum sepenuhnya menghargai keberadaan aturan adat yang berlaku di kawasan adat Ammatoa. Apalagi selama ini selalu ada upaya-upaya penanaman di dalam kawasan, yang selalu ditentang oleh Ammatoa.

Pengaruh dari luar, langsung atau tidak langsung mulai berdampak pada komunitas Kajang. Migrasi warga dari dalam ke luar kawasan, kadang terjadi dengan berbagai alasan. Misalnya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik atau alasan pendidikan. Dulu, masyarakat Kajang menolak pendidikan meski di kemudian hari mulai menerimanya. Sejumlah warga yang sebelumnya tinggal di alam kawasan, kini banyak yang menempuh pendidikan tinggi di Makassar dan bahkan di Pulau Jawa.

Migrasi besar-besaran warga Kajang dari rambang seppang ke luar kawasan terjadi pada era 1970-an, menyusul keterbatasnan lahan yang bisa diolah. Mereka kemudian membuka lahan untuk perkebunan dan persawahan, yang menyebar sepanjang wilayah Kajang hingga Tanete. Mereka pun mulai membangun kawasan pemukiman, meskipun tetap tidak memutuskan hubungan dengan identitas mereka sebagai orang Kajang.

Masalah kemudian muncul, ketika di era 1980-an, PT Lonsum yang didukung pemerintah, melakukan pengkaplingan lahan, yang menyebabkan hilangnya sebagian lahan warga. Meski lahan mereka tergerus, sebagian besar warga masih bertahan di pemukiman mereka dengan menggarap sebagian kecil lahan yang masih tersisa.

Tantangan lain adalah perubahan sosial yang terjadi di dalam kawasan termasuk pada pola ekonomi dan konsumsi. Sebagian besar warga Kajang dulu adalah petani dan pekebun. Sekarang ada yang keluar menjadi tenaga buruh di tempat lain. Pola konsumsi pun mengalami perubahan yang cukup menyolok.

Di masa lalu mereka hanya mengkonsumsi sagu dan nasi jagung. Kini warga Kajang mengkonsumsi nasi dan mi instan.

Yang tak banyak berubah di Kajang adalah aktivitas-aktvitas keseharian. Fasilitas mandi dan kakus mereka masih merupakan hal yang sama dari dulu. Sumber air masih tetap sangat tergantung pada sebuah sumber mata air yang terletak di tengah kawasan pemukiman. Cara berpakaian pun sebagian besar masih dengan ciri khas pakaian warna hitam dan tak menggunakan alas kaki.

Related Projects