GUNUNG BONGKOK UNTUK KAHIRUPAN DAN KAHURIPAN ORANG KASEPUHAN

Hutan itu dimanfaatkan untuk menunjang dua hal, yaitu Kahirupan jeung Kahuripan. Pertama, Kahirupan bermakna untuk mempertahankan keberlangsungan hidup manusia dengan memanfaatkan sesuai pada porsinya. Dan yang kedua, Kahuripan dimanfaatkan untuk dilindungi dengan menjaga kelestarian alam, mata air dan situs yang dititipkan oleh para karuhun.”(Abah Maman , 2017).

Leuweung Tutupan Gunung Bongkok Kasepuhan Pasir Eurih

Bagi Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih, Gunung Bongkok merupakan hutan adat yang berfungsi sebagai areal perlindungan dan konservasi (AKKM). Berada diwilayah adat Kasepuhan Pasir Eurih yang memiliki luas 580,438 Ha.  Gunung Bongkok ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak sejak ditetapkan pada tahun 2003.  Sejak beratus-ratus tahun yang lalu, wilayah ini sudah dikelola oleh masyarakat sebagai sumberkahuripanmereka, karena dari hutan masyarakat bisa bercocok tanam, mengambil kayu bakar dan sumber air. Mereka meyakini kalau hutan ada yang merusak dan merambah, yang jadi korban kembali ke masyarakat itu sendiri. Gunung Bongkok memiliki banyak keanekaragaman hayati seperti tanaman obat dan satwa-satwa liar yang masih dilindungi oleh masyarakat, selain itu Gunung Bongkok juga dipercaya sebagai sumber air yang mengairi sawah-sawah, dan pemukiman mereka.

Di dalam pengelolaan hutan kawasan Gunung Bongkok, para “karuhun”(nenek moyang) mereka sudah membagi hutan Gunung Bongkok kedalam beberapa zonasi diantaranya Leuweung Titipan/ Tutupanyakni area hutan yang dititipkan oleh nenek moyang mereka yang harus dijaga dan tidak boleh dibuka untuk kegiatan produksi, serta leuweung cawisandangarapanyakni area hutan yang boleh dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, didalam area ini masyarakat Kasepuhan Pasir Eurih Masih menjalankan tradisi pertahian “Ngahuma”(menanam padi di ladang).

Masyarakat Kasepuhan Pasir Eurih masih menjalankan pengelolaan berdasarkan aturan adat yang salah satu dasar nilai kehidupan yang mereka pegang berdasarkan filosofi hidup “bakti ka indung anu teu ngandung, ka bapa anu teu ngayugayang meyakini bahwa bumi adalah ibu dan langit adalah bapak.Hal ini mereka taati sehingga tercermin pada tata cara mereka dalam berinteraksi dengan alam. Lokasi mereka yang berada di pegunungan, membuat mereka sangat bertumpu pada pemanfaatan sumberdaya hutan di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal, memasak, ritual dan pangan dalam mempertahankan kebutuhan hidupnya. 

Namun selain daripada memanfaatkannya, mereka memiliki aturan adat yang dijalankan oleh Kasepuhan (Lembaga Adat) yang dipimpin oleh Abah/ Olot beserta pagawe kolotdan Ronda Kolotsebagai pemegang otoritas dalam pengambilan keputusan untuk mengatur pemanfaatan dan pengelolaan hutan secara turun-temurun dan diturunkan secara lisan kepada generasi selanjutnya demi penggunaan yang sesuai pada porsinya.

Abah Uding : Ronda Kolot Kasepuhan Pasir Eurih berfoto bersama pohon Rasamala

Rangkaian dari daur kehidupan masyarakat Kasepuhan bersumber dari nilai-nilai tatali paranti karuhunyang diwariskan oleh karuhun(leluhur) mereka yang wajib dijalankan dan tidak boleh ditinggalkan. Tatali paranti karuhunsebenarnya adalah aturan yang dibuat murni oleh Kasepuhan, bisa dikatakan juga sebagai pamalijika tidak menjalankannya. Mereka juga meyakini jika tidak menjalankan nilai-nilai ini akan mendapatkan kabendon(kualat) atau mendapatkan hal-hal yang dapat membahayakan diri sendiri dan alam sekitarnya. (Nur Fadhilla, 2018)

Saat ini, Masyarakat Pasir Eurih sedang dalam proses perjuangan untuk mempertahankan fungsi Gunung Bongkok sebagai area hutan yang dilindungi oleh masyarakat melalui penetapan Hutan Adat. sebab, status Gunung Bongkok yang sebagian adalah wilayah Taman Nasional membuat Kasepuhan Pasir Eurih kehilangan otoritasnya dalam menjalankan kearifan lokal/ hukum adat didalam pengelolaan Gunung Bongkok “Gunung Bongkok mah titipan Karuhun, Kudu di jaga, ari statusna leweung nagara mah urang jadi hese ngajagana, da eta mah jadi lain leuwueng urang, mun aya nu ngarusak jadi hese ngaturna” (Abah Uding, 2017) (terjemahan: Gunung Bongkok adalah titipan nenek moyang, jadi harus dijaga. Kalau statusnya hutan negara jadi sulit mengaturnya, sebab seperti bukan hutan kita, kalau ada yang merusak jadi susah mengaturnya).

.

Oleh : Cindy Julianty dan Kasmita Widodo

Published by : Agung Wirawan

Recent Posts

Leave a Comment