Prosiding Workshop ICCAs Malinau

By
In

Seperti sudah diakui dalam dunia konservasi bahwa kebanyakan areal yang mengandung keanekaragaman hayati tertinggi telah lama dikelola oleh masyarakat hukum adat (Indigenous People) secara berkelanjutan berdasarkan praktek tradisional dan kearifan lokal. Kehidupan masyarakat adat sangat tergantung pada akses dan kontrol atas pemanfaatan sumber daya alam yang ada di wilayahnya. Pada tahun 2008, di WPC Barcelona, kawasan konservasi oleh masyarakat adat yang disebut ICCA secara resmi diadopsi sebagai salah satu pola tata kelola konservasi baru tambahan (governance type). Selain itu, pemerintah Indonesiasaat ini sedang merevisi undang-undang tentangkonservasi keanekaragaman hayati(UU No. 5tahun 1990), dan konsepCCAstelah diadopsisebagai pola tata kelola berbasis masyarakat dan di luar kawasan konservasi yang dikelola oleh pemerintah.

ICCAs adalah ekosistem asli ataupun ekosistem yang dimodifikasi oleh manusia yang signifikan dari segi kekayaan keanekaragaman hayati dan secara sukarela dilindungi melalui peraturan dan praktek tradisional oleh masyarakat adat dan local setempat yang tergantung pada sumber daya alam di dalam kawasan tersebut oleh karena kehidupan atau kepercayaan atau budaya dan tradisi. Pada umumnya, ICCAs adalah kawasan yang dikelola oleh hukum adat secara komunal atau berdasarkan hak kolektif oleh masyarakat adat.

Pada tanggal 24-26 September 2013 telah dilaksanakan workshop ICCAs di Malinau, Kalimantan Utara, dengan tema “Pengakuan dan Penguatan Pengelolaan Hutan Adat dan Kawasan Konservasi oleh Masyarakat Adat (ICCAs): Pengalaman dan Ruang Kebijakan”. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 70 orang peserta dari 12 propinsi di Indonesia yang terdiri dari masyarakat adat dan beberapa lembaga yang tergabung dalam Working Group ICCAs Indonesia (WGII).

Silahkan download Prosiding Workshop ICCAs Malinau dengan klik cover berikut:

Prosiding workshop ICCA Malinau

Recent Posts

Leave a Comment