Search
Search across the site

Bukit Ubae

Provinsi Bengkulu, Kab. Kaur, Desa Ulak Lebar

Info Umum
Masyarakat Adat
Masyarakat Adat Semende Lembak
Wilayah Adat
Luas Area
24 Ha
Tanggal Registrasi Nasional
2025-08-04

Sejarah Inisiatif

Desa Ulak Lebar memiliki sejarah panjang yang berawal dari Dusun Enau Becangka sekitar tahun 1600, ketika masyarakat Semende Darat bermigrasi dan menetap di wilayah Muara Sahung di tepi Sungai Sahung yang kini berdekatan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Para leluhur seperti Puyang Periksa Alam dan Puyang Tabir Angin membuka pemukiman dan membentuk sistem sosial adat yang diwariskan hingga kini. Sekitar tahun 1958–1960, masyarakat berpindah ke wilayah Ulak Lebar yang lebih mudah dijangkau, dan kepemimpinan desa terus berkembang dari sistem demang hingga kepala desa modern.

Praktik Areal Konservasi Kelola Masyarakat (AKKM) di Ulak Lebar merupakan warisan tradisional yang telah dijalankan secara turun-temurun selama 101–500 tahun. Pola pengelolaan ini berlandaskan kearifan lokal masyarakat Semende yang hidup berdampingan dengan hutan sebagai sumber kehidupan dan warisan leluhur. Tujuannya adalah untuk menunjang pencaharian berkelanjutan, melestarikan pengetahuan adat, dan menjaga fungsi ekologis hutan sebagai sumber air dan pelindung kawasan.

Dalam perkembangannya, masyarakat Ulak Lebar mendapatkan pendampingan dari Yayasan Ulayat pada tahun 2005–2006 dalam perencanaan desa, serta dari AMAN dan Ulayat pada tahun 2012 dalam penyelesaian sengketa lahan dengan perusahaan. Upaya ini memperkuat pengakuan terhadap wilayah kelola masyarakat dan menjadikan AKKM sebagai wujud nyata kesinambungan antara warisan leluhur dan adaptasi masyarakat terhadap tantangan modern dalam menjaga kelestarian alam.

Praktik Pengelolaan

Bukit Ubae merupakan kawasan berbentuk bukit atau gunung yang memiliki kawah di puncaknya. Nama “Badas” atau “Ubae” berasal dari sejenis kayu yang kulitnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami pada anyaman, sekaligus berfungsi untuk memperkuat seratnya. Dahulu, bukit ini dipenuhi pepohonan besar dan menjadi bagian penting dari bentang alam setempat. Namun, seiring waktu dan aktivitas manusia, kawasan ini mulai terbuka, dan kawah di puncaknya kini telah berubah menjadi sebuah kolam alami.

Secara lokal, kawasan ini memiliki fungsi sebagai area lindung dan sumber mata air bagi masyarakat. Beberapa mata air dan bukit di sekitarnya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan mata air Suban dan bukit Tenam tetap dijaga karena lokasinya yang jauh dan statusnya sebagai kawasan terlindungi. Dalam pengelolaan sumber daya alam, masyarakat memegang berbagai pantangan adat seperti Ulu Tolong Buntu, Tungku Tiga, Kijang Nyelipiran, Jaring Api, Dikekas, Tube, serta melakukan Ritual Pamit Penunggu Hutan, Petaunan Sehendi, dan larangan berkegiatan di hutan pada bulan Sepit.

Pemanfaatan sumber daya di kawasan ini dibatasi oleh hukum adat, di mana masyarakat hanya diperbolehkan mengambil hasil alam dalam jumlah dan jenis tertentu, serta terbatas pada area yang dekat dengan permukiman. Pengelolaan berbasis kearifan lokal ini menunjukkan komitmen masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sumber air bagi kehidupan mereka.

Peraturan adat di Desa Ulak Lebar berperan penting dalam menjaga kelestarian sumber daya alam di kawasan Areal Konservasi Kelola Masyarakat (AKKM). Berbagai aturan tradisional seperti;

  • Ulu Tolong Buntu
  • Larangan mendirikan rumah atau pondok di antara dua bukit, terutama di sekitar sumber mata air.
  • Wilayah tersebut dipercaya sebagai jalan roh halus dan harus dijaga kealamiannya.
  • Cingkai Pematang
  • Tidak boleh mendirikan rumah di tengah-tengah pematang (antara dua bukit).
  • Tungku Tiga
  • Dilarang membuka rumah atau kebun dengan pola menyerupai tiga tungku sejajar.
  • Pelanggaran diyakini membawa kemalangan atau kesulitan hidup.
  • Kijang Nyelipiran
  • Larangan membangun pondok atau talang yang terlalu jauh dari pemukiman.
  • Jaring Api
  • Saat membuka lahan, dilarang menyisakan hutan sempit di antara kebun.
  • Dikekas
  • Sebelum pembakaran lahan, batas kebun harus dibersihkan selebar ±5 meter (3 kekas).
  • Tube
  • Dilarang meracun, menyetrum, atau menggunakan bahan peledak di sungai.
  • Ritual Pamit Penunggu Hutan
  • Ritual dilakukan sebelum membuka lahan dengan memberikan sesajian sebagai bentuk izin dan penghormatan terhadap alam.
  • Petaunan Sehendi
  • Tradisi membuka lahan dan menanam secara serentak agar saling melindungi dan mengendalikan hama.
  • Pantangan Bulan Sepit (Dhu al-Qaidah)
  • Dilarang melakukan kegiatan besar seperti membuka lahan, menanam, menikah, atau membangun rumah.

Keanekaragaman Hayati

Bukit Ubae yang berupa kawasan bukit atau gunung ini memiliki kontribusi terhadap keanekaragaman hayati pada hutan perbukitan. Beberapa jenis flora dan fauna penting yang ditemukan di wilayah ini antara lain;

Flora

  • Meranti
  • Tenam
  • Seluai
  • Kayu melau
  • Plagan / Kruing
  • Gaharu
  • Damar
  • Kayu lulus / Ulin
  • Kayu kendikat (pohon madu)
  • Kayu ndelemu (pohon madu)
  • Kayu kemenyan
  • Bancung
  • Bambu
  • Berbagai jenis kayu medang (termasuk Medang Gadis)
  • Beragam jenis rotan
  • Semuhau
  • Batu besi
  • Emas
  • Akar kuning
  • Akar bajakah
  • Kayu obat: sima kubung, lasih (daun muda diremas untuk mandi pagi mengobati demam), akar tetap manau, akar kundang
  • Tanaman Obat
  • Daun lasi
  • Daun akar semulap (untuk demam/batuk)
  • Akar bajakah
  • Kekait abang manau (untuk diminum, obat batuk)
  • Jihang abang (obat luka bakar)
  • Buah lihik (pencegah bisul)
  • Getah cempaka (obat sakit gigi)
  • Air/embun dari daun memban burung (obat tetes mata)
  • Jantung pisang gemuk (penambah ASI)
  • Getah mentuduk (obat luka)

Fauna

  • Harimau
  • Rusa
  • Kijang
  • Babi hutan
  • Monyet
  • Trenggiling
  • Tenuk (tapir)
  • Babirusa
  • Siamang
  • Orang utan
  • Burung rangkong
  • Elang
  • Kuau
  • Macan tutul
  • Macan akar
  • Beruang
  • Beragam jenis ular (aurlanting, tugang, beniol, tteki)
  • Murai
  • Ikan Mata Air
  • Ikan pelus
  • Mungkus
  • Cengkak
  • Seluang
  • Labi-labi
  • Ikan layang
  • Pehek
  • Pelung

Terdapat beberapa titik penting yang ada di Desa Ulak Lebar yang masih dijaga keberadaannya oleh masyarakat diantaranya;

  • Ayek Suban (Mata Air Tigarasa)
  • Ayek Pandak (Mata Air Pendek)
  • Batu Tapak peritsalam; tapak yang membuka desa Muara Sahung pertama kali.
  • Makam Tua Penabak (pembuka dusun ulak lebar)
  • Makam Puyang Haji namanya Ismail,
  • Makam Raden Abang namanya Kenimbur,
  • Makam Raje Niti
  • Mata Air Manggahan

Pemangku Hak

Belum terdapat peraturan khusus yang mengatur pengakuan Bukit Ubae. Akan tetapi, masyarakat memiliki komitmen secara bersama – sama terkait dengan pengelolaan wilayah AKKM oleh masyarakat luas. .

Foto

Data Foto tidak ditemukan.

Video

Data Video tidak ditemukan.

Lampiran

Data Lampiran tidak ditemukan.

Referensi dan Glosarium

-