Mempertahankan
Mempertahankan AKKM merupakan upaya untuk memperkuat keberlanjutan wilayah kehidupan (territories of life) yang dikelola oleh Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal melalui penguatan kapasitas komunitas, sistem penghidupan, kelembagaan sosial, serta regenerasi pengetahuan dan kepemimpinan. Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa AKKM tidak hanya bergantung pada pengakuan wilayah, tetapi juga pada kemampuan para pemangku AKKM untuk mempertahankan, merawat, dan melanjutkan praktik-praktik pengelolaan berbasis kearifan lokal di tengah berbagai tekanan dan ancaman yang terus berkembang.
Berbagai ancaman seperti ekspansi industri ekstraktif, konflik tenurial, perubahan iklim, degradasi ekosistem, pergeseran nilai budaya, hingga melemahnya regenerasi pengetahuan tradisional telah mempengaruhi keberlanjutan AKKM di banyak komunitas. Oleh karena itu, Mempertahankan AKKM diarahkan untuk memperkuat daya lenting sosial-ekologis komunitas melalui penguatan kapasitas organisasi masyarakat, pengembangan sistem ekonomi dan penghidupan berkelanjutan, ketahanan pangan lokal, penguatan peran perempuan dan kelompok muda, serta regenerasi pengetahuan tradisional lintas generasi.
Pendekatan ini juga menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai inti dari penguatan AKKM. Masyarakat tidak diposisikan sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai pemegang hak, pengelola wilayah, dan produsen pengetahuan utama dalam menjaga keanekaragaman hayati. Dalam konteks ini, Mempertahankan AKKM menjadi proses untuk memastikan bahwa praktik konservasi berbasis masyarakat tetap hidup, relevan, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan sosial, ekonomi, maupun ekologis.
Di Indonesia, pendekatan Mempertahankan AKKM dimanifestasikan melalui pembentukan Jaringan Pemangku Hak Areal Konservasi Kelola Masyarakat (JPH AKKM), yaitu ruang belajar dan konsolidasi antar komunitas pemangku AKKM di berbagai wilayah. Jaringan ini dibangun untuk memperkuat solidaritas, pertukaran pengalaman, pembelajaran bersama, serta pengembangan strategi kolektif dalam menjaga wilayah dan pengetahuan lokal. Melalui pendekatan berbasis komunitas ini, para pemangku AKKM dapat saling mendukung dalam menghadapi tantangan yang dihadapi di tingkat lokal maupun nasional.
Salah satu instrumen penting dalam penguatan tersebut adalah Peoples Conservation Learning Centre (PCLC), yaitu pusat pembelajaran konservasi rakyat yang dikembangkan sebagai ruang pendidikan, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan kapasitas berbasis pengalaman komunitas. PCLC menjadi medium untuk menghidupkan kembali praktik-praktik pengetahuan tradisional, memperkuat regenerasi anak muda, mengembangkan inovasi lokal, serta membangun kepemimpinan komunitas dalam pengelolaan keanekaragaman hayati. Dengan pendekatan ini, Mempertahankan AKKM tidak hanya berupaya mempertahankan wilayah, tetapi juga memastikan keberlanjutan budaya, pengetahuan, dan sistem kehidupan masyarakat yang menjadi fondasi utama konservasi rakyat di Indonesia.