
Peoples' Conservation Summit 2026
DEKOLONISASI KONSERVASI: Menegaskan Kedaulatan Rakyat Atas Pengetahuan dan Tata Kelola Keanekaragaman Hayati di Indonesia 1-3 September 2026
Memahami ICCA
Territories of Life
Kita sering mengamati hubungan yang kuat antara masyarakat adat atau komunitas lokal dengan wilayah, daerah, atau sumber daya alam tertentu, yang berakar pada alasan budaya, spiritual, dan filosofis. Hubungan ini telah melahirkan tata kelola sumber daya alam dan wilayah yang efektif, yang secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi pada konservasi alam. Kita menyebutnya sebagai Wilayah dan Areal yang dikonservasi oleh Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, yang secara global dikenal sebagai "Territories and Areas Conserved by Indigenous Peoples and Local Communities" (ICCA-Territories of Life). Istilah ICCA dipakai sebagai bagian dari komunikasi politik dari Gerakan konservasi rakyat secara global, namun tidak menghilangkan keragaman nama dan istilah lokal dari berbagai praktik yang ada komunitas. Di Indonesia, WGII telah mengadopsi istilah "Areal Konservasi Kelola Masyarakat" (AKKM) sebagai terjemahan dari ICCAs.

Bagi kami, tanah adalah mama. Jika kami terus merawat mama, maka mama akan selalu merawat kami sebagai anak-anaknya.
Naomi Marasian
Perempuan Adat, Komunitas Kemtuik, Papua
Strategi Kami
Mendokumentasikan
Mempertahankan
Membela
Pusat Pengetahuan
Peoples’ Conservation Summit: Merangkai Narasi dari Keanekaragaman Budaya Konservasi
Pers Rilis: Menyingkap Potensi Areal Konservasi Kelola Masyarakat seluas 29 juta hektar
Pers Rilis: Dekolonisasi Konservasi: WGII Luncurkan Peoples’ Conservation Summit dan Penyusunan Indonesian Local Biodiversity Outlook menuju COP17 CBD
Pers Rilis: Kick-off Meeting Peta Jalan Perlindungan dan Pemajuan Kearifan Lokal dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Hidup dari Laut, Tumbuh di Tanah, Kearifan Kelola Alam Orang Padaidori
Di Pulau Padaidori, tanah dan laut bukan sekadar ruang hidup, keduanya adalah "tempat makan" yang diwariskan, dijaga, dan dipertahankan bersama. Dari kebun, laut, hingga tradisi sasi, Masyarakat Adat Padaidori terus merawat sumber daya alam agar tetap menjadi penopang hidup bagi generasi berikutnya.
SelengkapnyaHubungi Kami
WGII terbuka untuk pertanyaan, peluang kolaborasi, serta masukan, baik dari mitra, komunitas, dan publik. Hubungi kami melalui form berikut atau berlangganan buletin WGII untuk mendapatkan informasi terbaru, publikasi, dan kegiatan WGII.
Ikuti Kami di Media Sosial
Ikuti Kami di Media Sosial













