Gua Mentawai
Provinsi Kalimantan Barat, Kab. Ketapang, Desa Sinar Kuri
Sejarah Inisiatif
Bukit Mentawai merupakan perbukitan berhutan yang memiliki Gua yang menjadi habitat kelelawar, sebuah wilayah daratan yang didominasi dengan pepohonan dan biasanya pohon itu berusia puluhan hingga ratusan tahun, wilayah ini dianggap sakral dan dijaga oleh masyarakat adat. Gua Mentawai dianggap sakral karena di dalamnya terdapat aliran air yang dapat mencegah penyakit sampar babi datang ke wilayah Kalam. Dikisahkan, pada zaman dahulu terdapat gua di dalam hutan, Gua tersebut dahulunya adalah pemukiman masyarakat, namun karena terjadi musibah maka hingga saat ini tidak lagi ditinggali dan dianggap keramat oleh masyarakat. Dulu, terdapat cerita ada anak yatim yang menghadiri pesta di pemukiman Mentawai, namun sesampainya di acara, anak yatim tersebut hanya diberi lauk untuk dibawa pulang, lalu anak tersebut dengan gembira membawa pulang bungkusan tersebut untuk diberikan kepada ayahnya yang masih berladang. Ketika ayahnya pulang dari ladang sambil membawa monyet merah, dia merasa lapar, setelah itu anaknya menunjukkan bahwa dia mendapatkan bungkusan lauk dari pesta, setelah ayahnya membuka dia mendapati lauk tersebut berbentuk daging, tapi ternyata getah damar. Sehingga dia sangat marah karena merasa terhina dengan pemberian tersebut. Setelah itu, ayah tersebut dengan kesal mendandani monyet merah, dan memberi pakaian selayaknya manusia lalu dibawa kepesta, seluruh yang hadir menertawakan monyet merah tersebut, dalam kondisi tertawa terbahak-bahak. Lalu timbul angin ribut yang memporak porandakan pesta dan menyebabkan semua orang beserta ternak (ayam) berubah menjadi batu. Karena tidak dihuni lagi, maka gua ini dihuni oleh Kelelawar yang mana kelelawar bahasa lokalnya adalah Mentawai. Saat ini gua Mentawai masih digunakan sebagai tempat ritual adat.
Gua Mentawai menghasilkan SDA berupa Mentawai (Kelelawar). Sekarang ini, banyak orang yang memburu kelelawar tersebut secara bebas. Sedangkan, dahulu untuk mengambil Kelelawar ada aturannya dan melaksanakan ritual Nampu Mentawai. Dimana setiap 1 tahun sekali, masyarakat diperbolehkan mengambil kelelawar, seluruh masyarakat berkumpul saat padi menguning di Bulan Januari dan berebut mengambil Mentawai. Ritual ini sudah lama tidak dilaksanakan, tetapi ingin dihidupkan kembali supaya pengambilan kelelawar ada aturannya. Lalu, juga untuk kedepannya akan direncanakan sebagai area pariwisata.
Dengan masyarakat melindungi Bukit Mentawai, berarti masyarakat juga melindungi SDA yang ada di Bukit Mentawai, termasuk flora dan fauna yang dapat diambil dan dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Selain itu, Bukit Mentawai juga memiliki potensi pengembangan wisata yang nantinya juga akan berdampak bagi kelangsungan hidup masyarakat.