Pemantang Tenam Tujuh
Provinsi Bengkulu, Kab. Kaur, Desa Ulak Lebar
Sejarah Inisiatif
Desa Ulak Lebar memiliki sejarah panjang yang berawal dari Dusun Enau Becangka sekitar tahun 1600, ketika masyarakat Semende Darat bermigrasi dan menetap di wilayah Muara Sahung di tepi Sungai Sahung yang kini berdekatan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Para leluhur seperti Puyang Periksa Alam dan Puyang Tabir Angin membuka pemukiman dan membentuk sistem sosial adat yang diwariskan hingga kini. Sekitar tahun 1958–1960, masyarakat berpindah ke wilayah Ulak Lebar yang lebih mudah dijangkau, dan kepemimpinan desa terus berkembang dari sistem demang hingga kepala desa modern.
Praktik Areal Konservasi Kelola Masyarakat (AKKM) di Ulak Lebar merupakan warisan tradisional yang telah dijalankan secara turun-temurun selama 101–500 tahun. Pola pengelolaan ini berlandaskan kearifan lokal masyarakat Semende yang hidup berdampingan dengan hutan sebagai sumber kehidupan dan warisan leluhur. Tujuannya adalah untuk menunjang pencaharian berkelanjutan, melestarikan pengetahuan adat, dan menjaga fungsi ekologis hutan sebagai sumber air dan pelindung kawasan.
Dalam perkembangannya, masyarakat Ulak Lebar mendapatkan pendampingan dari Yayasan Ulayat pada tahun 2005–2006 dalam perencanaan desa, serta dari AMAN dan Ulayat pada tahun 2012 dalam penyelesaian sengketa lahan dengan perusahaan. Upaya ini memperkuat pengakuan terhadap wilayah kelola masyarakat dan menjadikan AKKM sebagai wujud nyata kesinambungan antara warisan leluhur dan adaptasi masyarakat terhadap tantangan modern dalam menjaga kelestarian alam.
Praktik Pengelolaan
Bukit Tenam Tumutan Tujuh merupakan kawasan perbukitan yang masih berupa hutan rimba dan belum terjamah karena lokasinya sangat jauh dari permukiman. Nama “Tenam Tumutan Tujuh” berasal dari istilah Tenam (kayu), Tumutan (pertemuan mata air), dan Tujuh (jumlah mata air) yang menggambarkan karakter kawasan ini sebagai tempat bertemunya tujuh sumber air utama. Lanskapnya didominasi oleh pepohonan besar dengan diameter mencapai empat meter atau lebih, serta tanah bertipe kering dengan kemiringan bervariasi. Secara hidrologis, wilayah ini menjadi hulu bagi tujuh aliran sungai besar: di bagian Bengkulu mengalir Air Kinal, Air Padang Guci, Air Sahung, dan Air Luas, sedangkan di wilayah Sumatera Selatan terdapat Air Mekakau, Air Musi, dan Air Kendikat. Bukit ini berfungsi penting sebagai kawasan lindung alami dan penyimpan sumber air, meskipun hingga kini belum dimanfaatkan oleh masyarakat.
Secara lokal, kawasan ini memiliki fungsi sebagai area lindung dan sumber mata air bagi masyarakat. Beberapa mata air dan bukit di sekitarnya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan mata air Suban dan bukit Tenam tetap dijaga karena lokasinya yang jauh dan statusnya sebagai kawasan terlindungi. Dalam pengelolaan sumber daya alam, masyarakat memegang berbagai pantangan adat seperti Ulu Tolong Buntu, Tungku Tiga, Kijang Nyelipiran, Jaring Api, Dikekas, Tube, serta melakukan Ritual Pamit Penunggu Hutan, Petaunan Sehendi, dan larangan berkegiatan di hutan pada bulan Sepit.
Pemanfaatan sumber daya di kawasan ini dibatasi oleh hukum adat, di mana masyarakat hanya diperbolehkan mengambil hasil alam dalam jumlah dan jenis tertentu, serta terbatas pada area yang dekat dengan permukiman. Pengelolaan berbasis kearifan lokal ini menunjukkan komitmen masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sumber air bagi kehidupan mereka.
Peraturan adat di Desa Ulak Lebar berperan penting dalam menjaga kelestarian sumber daya alam di kawasan Areal Konservasi Kelola Masyarakat (AKKM). Berbagai aturan tradisional seperti;
Ulu Tolong Buntu
Larangan mendirikan rumah atau pondok di antara dua bukit, terutama di sekitar sumber mata air.
Wilayah tersebut dipercaya sebagai jalan roh halus dan harus dijaga kealamiannya.
Cingkai Pematang
Tidak boleh mendirikan rumah di tengah-tengah pematang (antara dua bukit).
Tungku Tiga
Dilarang membuka rumah atau kebun dengan pola menyerupai tiga tungku sejajar.
Pelanggaran diyakini membawa kemalangan atau kesulitan hidup.
Kijang Nyelipiran
Larangan membangun pondok atau talang yang terlalu jauh dari pemukiman.
Jaring Api
Saat membuka lahan, dilarang menyisakan hutan sempit di antara kebun.
Dikekas
Sebelum pembakaran lahan, batas kebun harus dibersihkan selebar ±5 meter (3 kekas).
Tube
Dilarang meracun, menyetrum, atau menggunakan bahan peledak di sungai.
Ritual Pamit Penunggu Hutan
Ritual dilakukan sebelum membuka lahan dengan memberikan sesajian sebagai bentuk izin dan penghormatan terhadap alam.
Petaunan Sehendi
Tradisi membuka lahan dan menanam secara serentak agar saling melindungi dan mengendalikan hama.
Pantangan Bulan Sepit (Dhu al-Qaidah)
Dilarang melakukan kegiatan besar seperti membuka lahan, menanam, menikah, atau membangun rumah.
Keanekaragaman Hayati
Bukit Tenam Tumutan Tujuh yang merupakan kawasan perbukitan ini memiliki kontribusi terhadap keanekaragaman hayati pada hutan perbukitan. Beberapa jenis flora dan fauna penting yang ditemukan di wilayah ini antara lain;
Flora
- Meranti
- Tenam
- Seluai
- Kayu melau
- Plagan / Kruing
- Gaharu
- Damar
- Kayu lulus / Ulin
- Kayu kendikat (pohon madu)
- Kayu ndelemu (pohon madu)
- Kayu kemenyan
- Bancung
- Bambu
- Berbagai jenis kayu medang (termasuk Medang Gadis)
- Beragam jenis rotan
- Semuhau
- Batu besi
- Emas
- Akar kuning
- Akar bajakah
- Kayu obat: sima kubung, lasih (daun muda diremas untuk mandi pagi mengobati demam), akar tetap manau, akar kundang
- Tanaman Obat
- Daun lasi
- Daun akar semulap (untuk demam/batuk)
- Akar bajakah
- Kekait abang manau (untuk diminum, obat batuk)
- Jihang abang (obat luka bakar)
- Buah lihik (pencegah bisul)
- Getah cempaka (obat sakit gigi)
- Air/embun dari daun memban burung (obat tetes mata)
- Jantung pisang gemuk (penambah ASI)
- Getah mentuduk (obat luka)
Fauna
- Harimau
- Rusa
- Kijang
- Babi hutan
- Monyet
- Trenggiling
- Tenuk (tapir)
- Babirusa
- Siamang
- Orang utan
- Burung rangkong
- Elang
- Kuau
- Macan tutul
- Macan akar
- Beruang
- Beragam jenis ular (aurlanting, tugang, beniol, tteki)
- Murai
- Ikan Mata Air
- Ikan pelus
- Mungkus
- Cengkak
- Seluang
- Labi-labi
- Ikan layang
- Pehek
- Pelung
Terdapat beberapa titik penting yang ada di Desa Ulak Lebar yang masih dijaga keberadaannya oleh masyarakat diantaranya;
- Ayek Suban (Mata Air Tigarasa)
- Ayek Pandak (Mata Air Pendek)
- Batu Tapak peritsalam; tapak yang membuka desa Muara Sahung pertama kali.
- Makam Tua Penabak (pembuka dusun ulak lebar)
- Makam Puyang Haji namanya Ismail,
- Makam Raden Abang namanya Kenimbur,
- Makam Raje Niti
- Mata Air Manggahan
Pemangku Hak
Belum terdapat peraturan khusus yang mengatur pengakuan Bukit Tenam Tumutan Tujuh. Akan tetapi, masyarakat memiliki komitmen secara bersama – sama terkait dengan pengelolaan wilayah AKKM oleh masyarakat luas.