Pulau Dato
Provinsi Kalimantan Timur, Kab. Penajam Paser Utara, Sepaku, Desa Kelurahan Maridan
Sejarah Inisiatif
Sejarah Kampong Maridan memiliki dua versi cerita berbeda. Pada versi pertama, Maridan berasal dari nama seseorang yang ditokohkan, yakni Jabat, dengan bukti berupa makam. Jabat merupakan tokoh Suku Paser yang diyakini membuka Kampong Maridan pada zaman penjajahan Belanda. Awalnya, Kampong Maridan merupakan wilayah adat Suku Balik, tetapi kini Suku Balik tidak lagi bermukim di Kampong Maridan. Pada versi kedua, dijelaskan bahwa nama Maridan diambil dari sebuah dahan kayu besar yang terbalik di suatu sungai. Maridan berasal dari gabungan kata ‘Mori’ yang berarti angker dan dipahami untuk tidak diganggu; serta kata ‘Dan’ yang berarti dahan kayu. Seiring berjalannya waktu, gabungan kata dari Moridan berubah menjadi Maridan karena pencampuran bahasa dan dialek. Masyarakat Adat Kampong Maridan memiliki situs atau areal yang dilindungi, situs tersebut bernama Pulau Dato.
Pulau Dato adalah pulau yang diberi nama dato, dato sendiri artinya kakek. Di Pulau Dato terdapat sebuah makam tua yang dimiliki oleh Dato Sahdan—merupakan orang yang membuka kebun pertama kali di Pulau Dato. Pulau ini ditumbuhi oleh pepohonan keras dan pepohonan bakau, di dalam areal Pulau Dato juga terdapat Batu Bayo. Masyarakat Adat Kampong Maridan meyakini bahwa batu bayo ada karena terjadinya boi rumo—seketika bumi menjadi gelap dan berhalilintar yang menyebabkan semua tumbuhan binatang bahkan manusia menjadi batu. Boi Rumo terjadi karena amarah seorang pria (suami) kepada seorang wanita (istri) yang meninggalkan rumahnya karena harus membuat persiapan ritual penyembuhan di kerajaan, kerajaan yang dimaksud bukan kerajaan kutai kartanegara atau kerajaan paser tetapi kerajaan yang diyakini oleh suku balik bahwa kerajaan tersebut ada jauh sebelum adanya zaman jahiliyah, pria tersebut marah karena ketika ia pulang berburu istrinya tidak dirumah,ia merasa cemburu pergi tidak seijinnya, seketika amarah itu memuncak lalu pria itu membunyikan betung (berbentuk tung, alat musik) dengan menggunakan 1 ekor buis (monyet merah) dan tangan nyua (biawak gunung) lalu dipukul betung tersebut dan seketika dunia menjadi gelap (bow rumo) datanglah nayu (petir) karena mendengar bunyi dari betung dan nayu menjadi marah, ketika dunia terang kembali semua nya menjadi batu termasuk raja. Batu Bayo mengikuti pasang surut air laut, jika air laut surut batu bayo akan tampak jika air laut naik batu bayo juga akan tetap nampak (tidak tenggelam). Areal Pulau Dato merupakan hamparan Alas Mangrove (Hutan mangrove) yang dimanfaatkan untuk mencari ikan, tiram maupun siput-siputan.
Inisiatif perlindungan areal ini telah ada dan tertanam secara turun temurun di benak Masyarakat Adat Kampong Maridan. Namun, para tokoh adat, kebanyakan belum paham aturan mengenai perlindungan areal yang dilindungi ataupun wilayah adat mereka. Oleh karenanya, terdapat pihak eksternal yang membantu dalam pengakuan dan perlindungan Masyarakat Adat Kampong Maridan, seperti AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), PEREMPUAN AMAN, dan BRWA (Badan Registrasi Wilayah Adat) di tahun 2020 untuk melakukan pemetaan wilayah adat dan menggali data sosial masyarakat adat.
Praktik Pengelolaan
Areal Pulau Dato dapat dimanfaatkan oleh seluruh Masyarakat Adat Kampong Maridan dan suku-suku lain yang tinggal di Maridan juga boleh memanfaatkan. Tidak ada larangan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di areal Pulau Dato—siapapun boleh mengambilnya asal tidak berlebihan dan atas seizin tuo kampong (kepala adat). Aturan ini diwariskan secara lisan dan turun-temurun.
Berikut ini merupakan aturan yang berlaku di areal Pulau Dato:
1. Tidak boleh melakukan perusakan terhadap hutan mangrove dan juga tidak boleh menebang pepohonan yang berada di areal Pulau Dato.
2. Tidak boleh melakukan perusakan terhadap hutan mangrove.
3. Tidak boleh menebang pepohonan yang berada di areal Pulau Dato
4. Tidak boleh mengambil sumber daya alam yang ada di sekitar Pulau Dato secara berlebihan;
5. Tidak boleh dikelola oleh masyarakat di luar Masyarakat Adat Kampong Maridan dan suku lain yang tinggal di Maridan.
Aturan ini dikelola dan diawasi oleh lembaga adat yang bernama Penggugu Adat Kampong Maridan, yang terdiri dari:
1. Tuo Kampong, berperan dalam menjalankan pemerintahan adat, memimpin musyawarah (bapekat), mengatur sistem kehidupan masyarakat adat terkait tanah, lahan, ladang, dan hutan serta memutuskan sanksi adat.
2. Saronoian, berperan dalam membantu Tuo Kampung mengurus kampung dan mengundang masyarakat adat setempat untuk hadir dalam bapekat dan bergotong royong.
3. Mulung, berperan dalam pembacaan mantra dan melakukan pengobatan tradisional melalui ritual adat.
4. Penggading, berperan dalam menyiapkan segala perlengkapan ritual dan memastikan ritual adat berjalan lancar.
Selain itu, Masyarakat Adat Kampong Maridan memiliki pembagian ruang menurut adatnya, yaitu:
1. Alas, adalah areal lahan yang dilindungi untuk diambil manfaat cadangan kebunnya. Terdapat berbagai tutupan lahan pada areal ini, yaitu payau, jati, dan pinus. Alas terbagi ke dalam beberapa kategori, yakni:
- Alas Tuo: Alas yang tidak pernah digarap untuk ladang. Alas Tuo merupakan tempat untuk mencari rotan, tempat berburu, mengambil bahan obat-obatan tradisional, mengambil kebutuhan untuk membangun rumah. Alas Tuo dimaknai sebagai hutan yang masih lebat
- Alas Bengkal: Alas setengah tua yang di dalamnya terdapat pohon buah-buahan dan kayu meranti. Alas bengkal akan digunakan kembali nantinya.
- Alas Mori: Hutan yang dijaga dan tidak pernah dikelola masyarakat adat karena dianggap angker.
- Alas Bakau: Hutan Mangrove.
2. Lati Burok, adalah belukar bekas ladang padi yang ditinggal 3-4 tahun.
3. Umo, adalah areal lahan kebun/ladang untuk menanam padi gunung maupun sayur-sayuran.
4. Kebon, adalah areal lahan yang digunakan untuk menanam karet dan sawit.
5. Gentung, adalah areal lahan yang difungsikan sebagai sumber mata air dengan subjek hak kolektif.
6. Kampung, adalah areal pemukiman di wilayah Kampong Maridan.
Keanekaragaman Hayati
Masyarakat Adat Kampong Maridan melindungi areal Pulau Dato karena areal tersebut memiliki sejarah yang erat dengan seorang tokoh adat yang dihormati. Pengelolaan dan perlindungan Pulau Dato berkontribusi dalam pelestarian ekosistem pesisir mangrove. Selain itu, juga berkontribusi terhadap perlindungan keanekaragaman hayati flora dan fauna yang ada di dalamnya seperti:
Beragam Jenis Flora:
1. Bakau Song/Brus (Bakau Laki-Laki) (Mangrove)
2. Bakau Bawe (Bakau Perempuan) (Mangrove)
3. Bakau Niri/Boi (Mangrove)
4. Bakau Tengere/Tengar (Mangrove)
5. Bakau Landing (Mangrove)
6. Bakau Setigi (Mangrove)
7. Bakau Api-Api (Mangrove)
8. Bakau Landro/Berus Song (Mangrove)
9. Bakau Landro/Berus Bawe (Mangrove)
10. Nipah
11. Jeruju
12. Perepah/Perepat
13. Perangat
14. Perepah/Perepat Batu
Beragam Jenis Fauna:
1. Bangau Tontong (dilindungi dan Langka/Terancam Punah)
2. Penyu Sisik (Dilindungi dan Langka/Terancam Punah)
3. Pesut Air Asin (Dilindungi dan Langka/Terancam Punah
4. Kepiting Bakau
5. Udang Putih
6. Ikan Kipar
7. Ikan Baronang
8. Ikan Belanak
9. Ikan Kakap Merah
10. Ikan Kakap Putih
11. Ikan Sumpit
12. Ikan Barakuda
13. Ikan Tompel
14. Ikan Ketamba
15. Ikan Trekulu
16. Ikan Pari
17. Ikan Mayung
18. Osi Bakau
19. Osi Batu
20. Osi Song
21. Osi Bawe
22. Brungun
23. Cempude
24. Punpun
25. Tengkoang
26. Tiram Bakau
27. Tiram Besi
Pemangku Hak
Masyarakat Adat di Kabupaten Penajam Paser Utara baru memiliki dasar hukum pengakuan dan perlindungan di tingkat provinsi. Hingga saat ini, belum ada subjek hukum yang mengatur mengenai pengakuan dan perlindungan Masyarakat Adat di Kabupaten Penajam Paser Utara, khususnya Masyarakat Adat Kampong Maridan. Masyarakat Adat Kampong Maridan merupakan salah satu masyarakat adat yang terdampak dari adanya penggusuran pembangunan Ibu Kota Nusantara yang berada Kecamatan Sepaku.