Tembawang
Provinsi Kalimantan Barat, Kab. Ketapang, Desa Sepotong
Sejarah Inisiatif
Sejarah Masyarakat Desa Sepotong
Desa Sepotong diperkirakan berasal dari komunitas yang dahulu bermukim di Sekadau. Hal ini berdasarkan kesamaan geografis, bahasa, budaya, dan kebiasaan. Awalnya, masyarakat ini adalah komunitas-komunitas kecil yang tersebar di beberapa lokasi atau "Dukuh" (pemukiman/pondok di dalam Tembawang), seperti Pancor, Gemantong, dan Sobai. Sekitar tahun 1800, seorang tokoh dari Tayan bernama Pateh Manca datang ke Komunitas Pancor dan menikah dengan Puya, seorang gadis asli Pancor. Melalui istrinya, Pateh Manca mengajak komunitas-komunitas yang terpisah untuk bergabung dan mendirikan komunitas baru. Dengan berjalannya waktu, komunitas-komunitas tersebut berkumpul dan mendirikan tiga Rumah Botang yang kini lokasinya berada di Tembawang Rumah Botang.
Legenda Kayu Belian dan Asal Nama Desa Sepotong
Di sekitar Rumah Botang terdapat sebuah aliran sungai tanpa nama (saat ini Bernama Sungai Pocak). Pada suatu saat, ketika warga sedang nanggok—mencari ikan di musim kemarau, mereka menemukan kayu belian (kayu keras) tanpa pangkal dan ujung (sepotong). Menurut cerita, kayu ini muncul dalam mimpi sebagai kayu keramat (rajo keramat) yang meminta ditempatkan di hilir sungai Tang Kam Buloh. Setelah dipindahkan ke Tang Kam Buloh, warga kembali bermimpi bahwa kayu tersebut tidak mau ditaruh di hilir sungai karena diganggu Jang Tahunang (Makhluk mitologi Dayak penjaga lubuk). Kayu tersebut minta dikembalikan ke nanga/muara Sungai Pocak. Namun, kayu tersebut kemudian minta dikembalikan lagi ke Tang Kam Buloh. Setelah itu, kayu ini Kembali muncul dalam mimpi warga bahwa kayu ingin dipindahkan ke hilir ke sungai Daka (keramat Rajo Pindah). Namun, ketika hendak dipindahkan, kayu tersebut hilang dan ditemukan secara tiba-tiba sudah berada di Sungai Daka Legenda kayu belian ini menjadi asal-usul nama Desa Sepotong. Berdasarkan cerita, kayu keramat ini ingin ditempatkan di Sungai Daka untuk menjaga kampung Dayak dari gangguan.
Praktik Pengelolaan Tembawang
Tembawang adalah area hutan yang didominasi oleh pohon buah serta pohon bernilai tinggi bagi masyarakat setempat, seperti Paoh, Duku, Nyatoh, Ensarai, Durian, Gandaria, Lembacang, Kandis, Tengkawang, dan lainnya. Secara historis, Tembawang merupakan bekas area pemukiman atau dukuh—tempat tinggal sementara di sekitar ladang di mana leluhur masyarakat setempat menanami wilayah tersebut dengan pohon buah di antara pohon hutan. Seiring waktu, Tembawang tersebut dikelola Bersama oleh satu atau lebih “lawang” (kelompok keluarga) dan diwariskan secara turun-temurun. Kepemilikan Tembawang ini bersifat komunal, artinya tidak boleh diperjualbelikan. Namun, ada juga Tembawang yang kini dikelola secara individu sebagai kepemilikan pribadi. Ukuran Tembawang tidak dibatasi atau dibagi berdasarkan batas formal. Luasan Tembawang bergantung pada kapasitas satu lawang dalam mengelola dan merawat lahan yang ada.
Tembawang menjadi sumber penghidupan dan mata pencaharian masyarakat sekitar, khususnya sebagai penghasil buah-buahan lokal. Selain untuk dikonsumsi, hasil panen Tembawang (buah-buah) juga dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Selain itu, masyarakat memanfaatkannya sebagai sumber rempah alami, pangan liar, tanaman obat, tumbuhan ritual, dan sumber protein lainnya.
Masyarakat diperbolehkan memetik buah dan memanen hasil hutan lainnya di Tembawang, namun ada pengecualian untuk madu. Satu pohon madu dimiliki oleh pemilik tertentu, biasanya adalah orang yang pertama kali menemukan sarang lebah di pohon tersebut. Tembawang ini dijaga oleh Masyarakat dan tidak ditebang senbarangan, jika ada yang melanggar akan dikenakan hukum adat sesuai ketentuan. Aturan utama di Tembawang adalah larangan menebang pohon, khususnya pohon buah dan pohon bernilai tinggi. Meski demikian, pemangku Tembawang memiliki kewenangan khusus untuk menebang pohon jika dalam keadaan darurat. Beberapa tembawang di Desa Sepotong erat kaitannya dengan kesejarahan karena merupakan bekas kampung tua, peninggalan rumah betang, dan/atau terdapat kuburan tua. Salah satunya adalah Tembawang Rumah botang. Di lokasi ini terdapat rumah betang dan makam keramat dari nenek moyang Masyarakat adat Lawang Limat Entangor yang usianya sudah ratusan tahun. Wilayah ini dianggap sakral oleh Masyarakat adat setempat. siapapun yang dengan sengaja membabat hutan makam Keramat ini akan berdampak buruk bagi pelanggarnya. Seperti penyakit mistis , Dampo, Kibangk.
Kontribusi Terhadap Keanekaragaman Hayati
Tembawang yang didominasi oleh tumbuhan buah memiliki kontribusi yang sangat besar untuk konservasi berbagai varietas buah lokal. Buah lokal yang dilestarikan adalah durian, ensarai, pekawai, teratong, temberanang, sinai ,mao, ntaok, peluntan, kapuok, sibau, rangkong, linang, mato momar, rambutan, belimbing darah, kapol, jatok, linsum, lemayong/salak hutan duku, langsat, bunyau, rambai, kapol encariak, pandau, mpaong, gandarria/satar,salaer, paoh, lembacang, lembawang, asam pulas, kweni, kemantan, mampelam, berangan, tebodak/cempedak, jelayan, tingkas, marau, kepayang, kelampai. Tembawang menjadi model dari Multi-Level Konservasi karena tidak hanya melestarikan berbagai jenis dan varietas buah lokal, tetapi juga mempertahankan ekosistem hutan yang berkontribusi pada seradan karbon.
Pengakuan dan Perlindungan Pemangku Hak/ AKKM
Belum ada regulasi khusus yang mengatur secara legal pengelolaan AKKM Tembawang di Desa Sepotong.