Search
Search across the site

WGII Bawa Suara Masyarakat Adat ke Synchronize Festival 2025

Rabu, 22 Okt 2025
Berita
Jakarta, (4-5 Oktober 2025) — Di tengah gegap gempita panggung musik dan ribuan anak muda yang tumpah ruah di Synchronize Festival 2025, Working Group ICCAs Indonesia (WGII) hadir dengan warna...

Jakarta, (4-5 Oktober 2025) — Di tengah gegap gempita panggung musik dan ribuan anak muda yang tumpah ruah di Synchronize Festival 2025, Working Group ICCAs Indonesia (WGII) hadir dengan warna berbeda. Bertempat di "Rumah Ruru"—area khusus di Synchronize Fest 2025 yang diselenggarakan oleh komunitas seni Ruangrupa—WGII bersama Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih menegaskan soal menyampaikan pesan penting tentang hubungan manusia, alam, dan budaya dalam menghadapi krisis iklim. 

Pesan ini dikemas dalam satu pertunjukan tutur berjudul “Tutur Pasir Eurih: The Answer is Us” yang dibawakan oleh Siti Sopariah, pemuda adat dari Kasepuhan pasir Eurih yang akrab disapa Teh Opah. 

“Di kampungku, para leluhur mewariskan adat istiadat salah satunya dengan cara bertutur atau bercerita. Kali ini aku ingin bertutur tentang adat dan kearifan lokal Kasepuhan pasir Eurih kepada yang hadir disini” ujar Siti Sopariah.

Pertunjukkan Tutur Pasir Eurih ini dibuka dengan permainan celempung, alat musik tradisional dari Kasepuhan Pasir Eurih, yang menghantarkan penonton memasuki dunia tutur dan siloka. Dalam kisahnya, Teh Opah menuturkan kisah masyarakat adat yang berusaha mempertahankan nilai-nilai adat istiadat dan praktek konservasi menjaga alam semesta–tentang Seren Taun sebagai wujud syukur kepada alam, tentang pengaturan nandur untuk panen serentak agar terhindar dari hama, hingga sistem pembagian kawasan hutan (Leuweung tutupan, titipan, cawisan). 

Yang disampaikan bukan sekedar cerita, namun warisan ingatan–rantai tutur yang diturunkan dari ibu kepada anak, generasi ke generasi. Nuansa hangat hubungan antara manusia, adat, dan alam diperkuat tidak hanya dengan kehadiran suara Celempung, namun juga melalui pemutaran video, menghadirkan suasana yang tenang dan reflektif di tengah hiruk-pikuk festival.

Pertunjukkan Storytelling “Tutur Pasir Eurih”
Pertunjukkan Storytelling “Tutur Pasir Eurih”

Melalui momentum WGII memperluas kampanye mengenai Indigenous Peoples and Local Community Conserved Areas and Territories (ICCA) sekaligus memperkenalkan budaya dan kearifan masyarakat adat yang dikemas lebih segar dan interaktif dengan audiens yang hadir—menembus ruang-ruang populer agar pesan konservasi dan keberlanjutan dapat menggema lebih luas 

“Karena menjaga keberlanjutan bumi seharusnya bukan hanya tugas masyarakat adat Pasir Eurih. Kami memang memiliki kearifan lokal dan tradisi yang sudah berakar kuat dalam melindungi hutan dan tanah leluhur, tetapi tanggung jawab ini seharusnya menjadi kesadaran bersama. Krisis iklim yang kita rasakan saat ini tidak mengenal batas wilayah atau adat tertentu, ia memengaruhi semua orang, dari desa kecil hingga kota besar. Sebab bumi adalah ibu, langit adalah bapak, dan kita semua adalah anak-anaknya.” pesan Teh Opah mengakhiri pertunjukan.

WGII hadirkan aktivitas Eco Printing dan pameran documenting: Membawa Audiens untuk merasakan praktek konservasi

Tak berhenti di atas panggung, pada kesempatan emas ini, WGII juga menghadirkan aktivitas interaktif dan edukatif dengan mengajak pengunjung terlibat aktif dan menghubungkan secara langsung pengunjung dengan praktik konservasi dan pengetahuan lokal masyarakat adat.

Lewat workshop eco-printing, pengunjung diajak membuat totebag dengan teknik eco-printing–mengenal pewarna alami dari alam sekaligus memahami keberlanjutan di baliknya. Tak kalah menarik, WGII juga menghadirkan penenun dari Masyarakat Adat Baduy yang mempraktikkan proses menenun kain secara langsung, mengajak audiens menyentuh, melihat, dan merasakan bagaimana tradisi hidup itu dijaga.

Suasana berlangsungnya Workshop pembuatan totebag Eco-Printing.
Suasana berlangsungnya Workshop pembuatan totebag Eco-Printing.

Di ruang yang sama, WGII juga menampilkan pameran foto dokumentasi ICCA (Indigenous Peoples and Local Communities Conserved Areas and Territories) di berbagai daerah Indonesia. Setiap foto bercerita tentang perjuangan, keteguhan, dan cara masyarakat adat menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Melalui kehadiran WGII di Synchronize Festival 2025 ini, WGII membuktikan bahwa isu perubahan iklim bagi masyarakat adat merupakan isu penting dan menjadi perhatian bagi kita semua terkhususnya generasi muda sang penerus bangsa, ditengah asiknya generasi muda yang lebih tertarik dengan musik, seni modern. Kampanye “The Answer is Us” menegaskan bahwa solusi terhadap krisis iklim tak datang dari luar. Jawabannya ada ada kita semua–pada cara kita mendengar, belajar, menghormati dan melestarikan pengetahuan yang sudah lebih dulu menjaga bumi ini.**rayutariEditor: AN

Newsletter Icon

Bergabung dengan
Buletin Kami

Berlangganan buletin kami untuk mendapatkan pembaruan terbaru, berita, acara, dan aktivitas komunitas langsung ke kotak masuk Anda.

Kami menghargai privasi Anda, email Anda aman bersama kami.