Etnobotani Perempuan dan Survey Keanekaragaman Hayati dalam Kerangka ICCAs
Diterbitkan pada 2025 oleh Working Group ICCAs Indonesia (WGII) dan Yayasan Diakonia Pelangi Kasih, kajian ini mendokumentasikan pengetahuan etnobotani yang dimiliki perempuan di Desa Bongkaras, Sumatera Utara, sebagai bagian dari survei keanekaragaman hayati yang lebih luas dalam kerangka AKKM/ICCA. Penelitian ini mengisi kesenjangan kritis dengan menempatkan perempuan — yang selama ini menjadi penjaga ladang, hutan, dan kebun obat — sebagai aktor utama dalam konservasi komunitas, bukan sekadar penonton pasif.
Kajian ini mengeksplorasi bagaimana perempuan lokal mengidentifikasi, menamai, membudidayakan, memanen, dan mentransmisikan pengetahuan tentang tumbuhan yang digunakan untuk pangan, obat, dan ritual. Penelitian ini mengungkap sistem taksonomi yang kaya yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari: pengetahuan yang tidak tersimpan dalam buku tetapi dihidupkan melalui praktik antargenerasi. Para peneliti menerapkan metode etnobotani partisipatif dan transek keanekaragaman hayati terstruktur, menciptakan dataset hibrida ilmiah dan berbasis komunitas.
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan botani perempuan bukan sekadar pengetahuan tradisional melainkan alat tata kelola aktif yang menginformasikan keputusan konservasi dalam AKKM komunitas. Buku ini berargumen untuk mengintegrasikan pendekatan sensitif gender dalam dokumentasi keanekaragaman hayati, registrasi AKKM, dan perencanaan konservasi, dengan implikasi bagi kebijakan nasional maupun komitmen keanekaragaman hayati global dalam kerangka Kunming-Montreal.