Perempuan Mekar Raya, Penjaga Pengetahuan Lokal
- Perempuan Dayak Simpankng asli di Ketapang, Kalimantan Barat, adalah penjaga hutan dan pengasuh pengetahuan lokal. Mereka bergantung pada perkebunan karet (hutan karet) dan perladangan berpindah. Mereka juga berburu, memancing secara tradisional, dan mengumpulkan hasil hutan bukan kayu dari tembawang, bawas, hutan lindung, dan hutan sekitar.
- Serina Greta, seorang perempuan Dayak Simpankng asli, mengetahui banyak tanaman di hutan adat ini. Dia memperoleh pengetahuan ini dari ibunya, yang menerimanya dari neneknya. Ini diwariskan dari generasi ke generasi karena budaya lisan masyarakat Dayak.
- Perempuan adalah kelompok yang paling dekat dengan hutan. Ritual juga didokumentasikan dari narasi perempuan, termasuk sanksi adat. Mereka mengajarkan dan mewariskan kegiatan hutan atau desa kepada generasi muda.
- Proses penentuan kawasan dan pengelolaan hutan seringkali tidak seimbang dan bahkan memperkuat ketidaksetaraan gender. Di Desa Mekar Raya, penentuan kawasan dan dokumentasi keanekaragaman hayati di hutan desa melibatkan perempuan. Perempuan desa sangat aktif. Mereka sangat terhubung dengan hutan. Perempuan Mekar Raya tidak hanya memegang peran domestik.
Serina Greta memimpin sebuah kelompok ke hutan adat pada bulan November lalu. Bergabung dalam kelompok tersebut beberapa pemuda desa dan tokoh adat. Wanita berusia 40 tahun ini menunjukkan kekayaan hutan adat mereka di Desa Mekar Raya, Kecamatan Simpang Dua, Ketapang, Kalimantan Barat.
Dia berjalan di depan, sesekali berhenti di beberapa pohon atau tanaman untuk menjelaskan nama lokal dan kegunaannya.
"Ini adalah doga, salah satu sayuran tumis yang bisa dicampur dengan rebung," kata Serina, menunjukkan tanaman berdaun panjang dengan ujung runcing, mirip dengan tanaman dari keluarga jahe-jahean.
Beberapa langkah kemudian, dia menunjukkan tanaman yang secara lokal disebut maliali atau mali-mali. Di kalangan masyarakat Dayak Simpankng, maliali digunakan untuk mengobati luka bakar atau melepuh. Caranya cukup dengan menempelkan daun pada bagian tubuh yang terkena.
Dayak Simpankng juga menggunakan maliali untuk ritual tradisional tertentu. Ada ritual yang disebut mulang semparan, yaitu ritual untuk membuka ladang, nyapa tahun, untuk syukuran setelah musim panen, dan bebantan, ritual untuk membersihkan desa.
"Ritual bebantan membersihkan desa dari hal-hal buruk, agar desa tidak terkena dampak. Biasanya dilakukan setiap tiga tahun sekali," kata Serina.
Serina menunjukkan sekelompok bemban. Bemban atau bamban adalah jenis tanaman herba. Tumbuh berkelompok dengan batang lunak, dan ketika dewasa, tingginya tidak melebihi dua meter. Biasanya merupakan tanaman tahunan atau tahunan.
"Kita bisa mengambil air dari tunas muda tanaman ini, yang berfungsi untuk menjernihkan penglihatan," katanya.
Serina juga menunjukkan jenis jamur. Ini disebut kulat tempurung, digunakan untuk mengobati ngompol pada anak-anak.
Dia mendemonstrasikan pembuatan obat tradisional. Ramuan tradisional yang biasa dikonsumsi oleh perempuan Mekar Raya adalah minuman untuk meningkatkan kesehatan dan menghilangkan kelelahan. Serina membuat minuman ini secara rutin seminggu sekali.
Ramuan ini juga bisa digunakan untuk pemulihan pasca melahirkan.
"Bahan-bahannya termasuk jahe, kencur, serai, dan kunyit. Digunakan untuk pemulihan pasca melahirkan dan dikonsumsi setiap hari selama seminggu."
Obat ini tidak memiliki nama, tetapi semua perempuan di Desa Mekar Raya mengetahui manfaat minuman ini.
Serina mengetahui banyak tanaman di hutan adat ini. Dia memperoleh pengetahuan ini dari ibunya, yang menerimanya dari neneknya. Ini diwariskan dari generasi ke generasi karena budaya lisan masyarakat Dayak.
Dia mengatakan mereka berusaha mendokumentasikan tanaman obat dan tanaman pangan di hutan mereka untuk membuat sebuah buku.
"Semoga jika buku yang mencantumkan tanaman obat dan rempah-rempah selesai, dapat dibaca oleh generasi mendatang atau menjadi pengetahuan bagi masyarakat luas," harap Serina.
Desa Mekar Raya sebelumnya dibagi menjadi lima dusun, yaitu Dusun Baya Keranji, sekarang menjadi Desa Batu Daya, Dusun Kembra menjadi Desa Kamora, dan Dusun Merangin menjadi Desa Kampar Sebomban.
Pola pemukiman masyarakat adalah linier, mengikuti pola sungai. Pemukiman Desa Simpang Dua berkelok-kelok mengikuti aliran sungai dan perbukitan.
Masyarakat adat bergantung pada perkebunan karet (hutan karet) dan perladangan berpindah. Mereka juga berburu, memancing secara tradisional, dan mengumpulkan hasil hutan bukan kayu dari tembawang, bawas, hutan lindung, dan hutan sekitar.
Desa ini berjarak delapan kilometer dari jalan provinsi. Mereka memiliki beberapa hutan yang dikelola termasuk dalam kawasan konservasi yang dikelola masyarakat (AKKM).
Masyarakat adat Dayak Simpakng merencanakan penggunaan lahan dan alokasi ruang, termasuk tembawang, yang sebagian besar terletak di kawasan hutan produksi konversi (HPK), hutan lindung, dan sebagian kecil di kawasan penggunaan lain (APL).
Tembawang di ketiga kawasan ini ditetapkan untuk tujuan ekonomi dengan hasil buah. Ada juga hutan keramat yang terletak di tanah berstatus HPK.
"Hutan ini untuk keperluan tradisional dan tempat tumbuhnya tanaman obat. Beberapa area sepenuhnya terlarang kecuali untuk keperluan ritual," kata Serina.
Untuk sumber air bersih, masyarakat bergantung pada Bukit Berugak dan Senibung.
Ada juga Bukit Semugo, terletak di hutan lindung, sebagai tempat ibadah dan tempat peristirahatan leluhur. Termasuk Sungai Keramat sebagai tempat pemijahan ikan, area larangan memancing, dan tempat ritual tradisional. Serina juga menyebutkan Gunung Timur sebagai situs wisata religi dan air terjun.
Perempuan, katanya, membantu melindungi hutan ini agar dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat adat.
Proses penentuan kawasan dan pengelolaan hutan seringkali tidak seimbang dan bahkan memperkuat ketidaksetaraan gender. Di Desa Mekar Raya, penentuan kawasan dan dokumentasi keanekaragaman hayati di hutan desa melibatkan perempuan.
"Kami membantu memantau pemetaan area dan memeriksa lokasi," kata Serina.
Perempuan desa sangat aktif. Mereka sangat terhubung dengan hutan. Perempuan Mekar Raya tidak hanya memegang peran domestik.
Interseksionalitas sangat terlihat. Serina fasih menjelaskan batas-batas hutan. Area yang kami masuki adalah area tembawang. Di area ini terdapat banyak pohon buah. Hutan Tembawang biasanya memiliki humak atau rumah peristirahatan, tidak jauh dari area pertanian.
Masyarakat Dayak mempraktikkan perladangan berpindah, sering membangun rumah atau pondok untuk beristirahat. Area pondok menjadi tembawang. Buah-buahan hutan yang mereka makan kemudian ditanam.
Setelah panen, area tersebut ditinggalkan. Kadang-kadang ketika mereka kembali ke sini untuk bertani, benih yang mereka tanam telah tumbuh besar.
"Saat panen (memetik buah) ketika kami masih kecil, orang tua kami memberi tahu kami arti tanaman di hutan ini, nama-nama pohon buah, atau cara merawat hutan," katanya.
Cerita ini diceritakan kembali kepada anak-anak mereka. Perempuan Mekar Raya akan bercerita sambil makan atau bertukar cerita sebelum tidur. Sementara itu, proses pengayaan pengetahuan di kalangan perempuan biasanya terjadi saat mereka menenun, menganyam, atau memasak bersama.
Seiring waktu berubah, penduduk ingin mendokumentasikan keanekaragaman hayati melalui buku. "Kami ingin mencatat setiap tanaman obat dan tanaman rempah di hutan ini," katanya.
Perempuan adalah kelompok yang paling dekat dengan hutan. Ritual juga didokumentasikan dari narasi perempuan, termasuk sanksi adat. Mereka mengajarkan dan mewariskan kegiatan hutan atau desa kepada generasi muda.
Area keramat sepenuhnya terlarang bagi penduduk, kecuali untuk keperluan ritual tradisional. Di sana, juga hidup hewan seperti macan dahan. Macan dahan adalah spesies kucing liar yang langka dan dilindungi.
Sanksi adat yang mereka terapkan bervariasi. "Tergantung pada tingkat keparahan pelanggaran," kata Serina.
Tondi, mewakili ayahnya; 'Pak Adat' Desa Mekar Raya—yang hanya berbicara Dayak—menjelaskan posisi perempuan dalam adat.
Perempuan, katanya, memainkan peran penting sebagai pengasuh pengetahuan. Dalam beberapa sesi upacara adat, mereka berkontribusi dalam menyiapkan prosesi. Dari prosedur hingga menjelaskan secara lisan kepada generasi muda makna prosesi, termasuk bahan-bahan untuk melengkapinya.
"Misalnya, dalam upacara talam panuta saat pernikahan, perempuan terlibat langsung," katanya.
Perempuan juga menjelaskan kepada anak-anak untuk tidak bermain sembarangan di sungai.
Bagi masyarakat adat, sungai adalah sumber kehidupan. Oleh karena itu, tabu bagi warga Dayak merusak sungai. Dalam aturan area penangkapan ikan keramat, lokasi tidak boleh diganggu, termasuk larangan memancing.
"Terkadang yang ditakuti orang bukan sanksi adat, tetapi sanksi dari penjaga di sana."
Aturan mengenai larangan memasuki hutan keramat juga diceritakan oleh perempuan. Siapa pun yang memasuki hutan keramat akan menerima sanksi. Tidak hanya sanksi adat, tetapi seringkali juga datang dari 'Penjaga.' Ini terbukti jika pelanggar jatuh sakit dengan penyakit aneh.
Menolak kelapa sawit
Desa ini pernah menghadapi prospek perusahaan kelapa sawit masuk. Masyarakat, termasuk perempuan, dengan tegas menolak ancaman terhadap wilayah adat mereka. Serina, salah satu perempuan Mekar Raya yang vokal, menentang perusahaan kelapa sawit.
"Awalnya, mereka datang dan langsung bertanya tentang area HGU dan menyatakan bahwa area kami sudah bersih sehingga mereka bisa mengerjakannya," kata Serina.
Penduduk segera menunjukkan peta yang menunjukkan bahwa hutan mereka telah menjadi hutan desa, hutan lindung, hutan adat, dan sedang dalam proses legalisasi di pusat, sehingga perusahaan tidak bisa masuk sesuka hati.
Perusahaan berbatasan dengan desa. Penduduk bahkan menemukan beberapa pelanggaran, seperti penerbitan IUP pada 1 April 2005, sebelum izin lokasi diterbitkan pada 27 April 2005.
IUP diduga diterbitkan tanpa analisis dampak lingkungan (Amdal). Amdal baru tersedia pada 2011. Hak guna usaha (HGU) seluas 12.500 hektar diterbitkan pada 2013, sementara kompensasi lahan kepada masyarakat untuk 9.800 hektar baru selesai pada 2019.
Pada 2023, pemilik tanah juga melaporkan perusahaan karena menanam di luar HGU. Terbukti dari pengukuran batas yang menunjukkan aktivitas perusahaan di luar HGU. Pada 11 April 2023, mediasi tidak terjadi karena perusahaan tidak hadir.
Penduduk dengan tegas menolak karena hutan adalah sumber kehidupan bagi masyarakat. Belum lagi, melihat desa-desa sekitar rusak setelah perusahaan kelapa sawit masuk.
"Kami tidak ingin nanti tidak ada suara burung, hewan juga sulit ditemukan. Hal-hal yang telah dilestarikan sejak nenek moyang kami, tentu kami berusaha melindungi sebaik mungkin."
Cambang Cornelia, seorang penenun Mekar Jaya, mengatakan hutan adalah jantung desa mereka. "Di sanalah air dari gunung mengalir ke desa dan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika diubah menjadi kelapa sawit atau perusahaan masuk, jelas akan menguras hutan dan air, yang pada akhirnya akan menguras manusia juga," kata wanita berusia 57 tahun itu.
Gusti Suganda, dari Tropenbos Indonesia—organisasi pendamping masyarakat—mengatakan hak untuk mengelola hutan desa diberikan kepada Lembaga Pengelola Hutan Desa berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK 5744 pada 2022. Luas hutan desa adalah 1.107 hektar, dan "Yulius Yogi adalah ketua LPHD.
Dia melihat kembali. Pada 2014, perusahaan kelapa sawit mencoba mendekati masyarakat dengan menandai batas di Desa Mekar Raya dan langsung disambut dengan penolakan keras dari masyarakat.
Tropenbos mengusulkan perlindungan sekitar 200 hektar area tembawang (35 lokasi) dan 13 area mata air. Ini juga termasuk tujuh lokasi keramat tradisional, yang merupakan habitat alami macan dahan, dianggap sebagai leluhur Suku Dayak. Habitat yang mereka yakini sebagai tempat tinggal macan dahan menjadi area tertutup, bahkan untuk pertanian.
Hutan, sumber kehidupan
Yulius Yogi, seorang pemimpin pemuda di Desa Mekar Raya, mengatakan mereka dengan ketat menjaga hutan mereka. "Hutan dibagi menjadi tiga lapisan, yaitu bawas atau ladang, tembawang, dan belantara," katanya.
Tembawang adalah bagian dari hutan yang kaya akan sumber daya alam seperti buah-buahan, tanaman obat, dan bahan anyaman. Sementara itu, belantara adalah bagian terdalam dari hutan, jarang dimasuki oleh masyarakat.
Bagi masyarakat Mekar Raya, tembawang adalah lapisan hutan yang paling bermanfaat bagi mereka karena merupakan tempat untuk menemukan buah-buahan seperti durian, cempedak, gandaria, tengkawang, cemrangan, dan berbagai tanaman obat.
Tembawang Mekar Raya juga merupakan penghasil durian terbesar di Ketapang. Satu titik tembawang dapat menghasilkan 2.000–3.000 durian selama musimnya dan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat Mekar Raya. Awalnya, tembawang adalah bekas ladang nenek moyang.
Tembawang adalah jantung penghidupan masyarakat Mekar Raya, terutama perempuan. Ini adalah sumber makanan dan bahan baku sehari-hari.
Para perempuan mengumpulkan bahan anyaman untuk membuat kerajinan tangan atau tikar. Mereka juga memetik buah selama musim panen, seperti durian, cempedak, kandaria, langsat, duku, mentawa, dan pekawai. Selain itu, mereka mendapatkan air dari mata air di dalam area tersebut.
Fransiska, seorang penenun bembang, mengatakan dia telah menenun sejak kecil. Dia sekarang mewariskan keterampilan ini kepada generasi muda untuk melestarikan tradisi menenun dan memberikan pendapatan tambahan.
"Kami sudah memiliki kelompok menenun."
Pengetahuan menenun, termasuk pemilihan bahan, motif, dan warna, diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka biasanya membuat tas, keranjang, dompet, dan sampul buku. Harga berkisar dari Rp5.000 hingga Rp300.000. "Kami biasanya menemukan bahan di hutan karena semuanya ada di sana," kata Siska.
Selain menenun, dia juga bertani, menyadap karet, dan menunggu durian jatuh.
Kegiatan menunggu durian jatuh telah menjadi daya tarik wisata di Desa Mekar Raya. Setiap musim durian, banyak orang berbondong-bondong untuk bergabung dengan penduduk setempat menunggu durian jatuh.
Namun, masyarakat Mekar Raya melarang mereka yang ikut menunggu durian untuk menjualnya, hanya untuk konsumsi pribadi. Menunggu durian biasanya berlangsung dari pukul 19:00-21:00 oleh pria, wanita, dan anak-anak.
"Saat menunggu durian, orang tua akan membawa anak-anak mereka untuk belajar langsung. Anak-anak juga antusias untuk ikut menunggu durian," kata Cambang.
Aliran sungai yang bersumber dari mata air gunung keramat adalah sumber pendapatan desa. Mereka menggunakan sumber air untuk membuat air galon isi ulang. Model ini juga memperkuat upaya untuk melindungi hutan. Jika terjadi konversi, sumber air akan terancam.
"Air desa tetangga tidak sebaik milik kami karena perusahaan sudah masuk ke sana. Apakah itu karena polusi atau limbah dari perusahaan yang menguras mata air dan membuat air mereka keruh," kata Serina.
Mereka tidak ingin kerusakan terjadi di hutan mereka. Itulah mengapa penduduk Mekar Raya, termasuk perempuan, bertekad untuk melindungi hutan.
Tidak hanya menunjukkan peran mereka dalam perlindungan hutan dan wilayah adat, tetapi perempuan Mekar Raya juga melestarikan pengetahuan lokal. Mereka melindungi hutan sambil memanfaatkannya dengan bijak.