Search
Search across the site

Peringati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026: WGII luncurkan 1 Juta Hektar Wilayah Konservasi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal sebagai Warisan Biokultural Indonesia

Kamis, 21 Mei 2026
Berita
Bersama dengan panelis lainnya, Koordinator Eksekutif WGII, Cindy Julianty, telah mengisi panel yang bertemakan “Peran Masyarakat” di Kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Jawa Barat

(Depok/Jumat, 22 Mei 2026) Sejak tahun 2000, 22 Mei selalu diperingati sebagai Hari Keanekaragaman Hayati (Kehati) Internasional atau International Day for Biological Diversity. Pada momentum ini, Working Group ICCAs Indonesia (WGII) berkesempatan menjadi pembicara di salah satu panel yang diselenggarakan oleh Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup. Hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun ini mengangkat tema “Kemajuan Capaian Indonesia dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati #RoadtoCBDCOP17”. Sebagai salah satu aktor non-pemerintah yang hadir, WGII juga meluncurkan data ICCAs (Indigenous Peoples and Local Community Conserved Territories and Areas), untuk mengangkat nilai-nilai, praktik, dan tradisi pengelolaan serta perlindungan ruang hidup oleh Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal (MA&KL) secara turun-temurun. Ruang hidup MA&KL, yang kerap bertautan dengan apa yang dikenal sebagai sumber daya alam, adalah bukti nyata, bahwa ketika ruang hidup masyarakat lenyap, bukan hanya ekosistem yang hilang, melainkan hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan masa depan generasi selanjutnya yang turut hilang.

1 Juta Hektar Wilayah Konservasi Masyarakat berhasil Didokumentasikan

Sampai dengan Mei 2026, WGII bersama Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal serta organisasi pendamping, berhasil mendokumentasikan 1.010.430,68 hektar ICCAs atau wilayah yang dijaga, dilindungi, dan dikelola oleh Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal berbasis kearifan lokal dan pengetahuan tradisional, dengan potensi ICCAs mencapai 29.545.402,06 juta hektar secara nasional. Luas ICCAs terbesar berada di region Kalimantan sebesar 671.323,60 hektar, diikuti oleh region Sulawesi sebesar 127.051,43, region Sumatera 89.543,39 hektar, region Papua 52.389,85 hektar, region Maluku 50.186,79 hektar, serta region Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sebesar 19.935,50 hektar. Jumlah ICCAs ini pun menunjukkan keanekaragaman budaya yang berjalin erat dengan keberhasilan upaya pengelolaan, sekaligus pelestarian keanekaragaman hayati, baik di tingkat spesies ataupun lanskap.

Hasil analisis WGII terhadap data ICCAs Registrasi Nasional dan potensinya, diketahui bahwa 69,3% ruang hidup masyarakat mencakup ekosistem penting, seperti mangrove, hutan alam, karst, gambut, terumbu karang, lamun, dan lain sebagainya. Keragaman ekosistem ini saling terhubung di mana Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal memiliki peranan penting untuk mempertahankan fungsi dan keberlanjutan ekosistem, melalui praktik kearifan lokal dan tata kelola lokal.

Cindy Julianty, Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia, menyatakan, “Indonesia bukan cuma negara megabiodiversitas, melainkan juga biokultural. Biokultural penting dalam konteks tiga hal; alam/keanekaragaman hayati, pengetahuan, dan bahasa.” Keanekaragaman ekosistem ini turut disertai dengan keanekaragaman spesies dan pemanfaatannya. “Kami juga menemukan adanya aspek pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam konteks bioprospeksi. Ditemukan juga banyak tujuan lainnya, seperti untuk memenuhi aspek ekonomi, livelihood, pangan, kosmetik, ritual” tambah Cindy. Lebih lanjut, ia mengatakan, “data-data yang kami agregat di lapangan, sudah melalui proses verifikasi data bersama masyarakat. Banyak ditemukan study case, yang bisa menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional itu tidak dibagi-bagi atas tipe ekosistem tertentu. Bahkan dalam satu lokasi konservasi, bisa sangat beragam ekosistemnya, ada yang kecil, ada yang besar. No matter how big or small, ekosistem/ICCAs is same (equally) important.”

Bahasa Lokal dan Pengetahuan Tradisional dalam Praktik Konservasi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal

WGII mendorong upaya dekolonisasi cara pandang terhadap konservasi keanekaragaman hayati, dari perspektif masyarakat. Langkah ini dinilai penting di tengah ancaman yang tidak terbatas pada keanekaragaman hayati, melainkan hilangnya keragaman bahasa lokal di Indonesia. Dalam kekayaan biokultural, bahasa memiliki peranan penting. Karena itu, dalam pendokumentasian ICCAs, penggunaan istilah-istilah lokal dan nama lokal keanekaragaman hayati dikedepankan. “Ini untuk menunjukkan bahwa traditional knowledge punya hubungan erat dengan keberlanjutan keanekaragaman hayati,” ujar Cindy Julianty. Ia pun menegaskan bahwa pembahasan biodiversitas tidak bisa hanya menggunakan pendekatan sektoral atau disiplin tunggal. Menurut Cindy, keberlanjutan alam tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan sosial. “Biodiversitas itu multidisiplin. Penting untuk memastikan nggak cuma keberlanjutan alamnya, tapi juga keberlanjutan sosial. Tidak ada nature sustainability tanpa social sustainability.”

Dengan demikian, WGII menegaskan kepada Kementerian Lingkungan Hidup bahwa konservasi keanekaragaman hayati tidak dapat dipisahkan dari pengakuan atas relasi sosial-ekologis Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dengan ruang hidupnya. Sehingga, implementasi Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia perlu menjamin, Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal ditempatkan sebagai pemangku hak sekaligus subjek utama dalam konservasi, termasuk melalui perlindungan pengetahuan tradisional, serta pengakuan terhadap wilayah yang dijaga keberlanjutannya secara turun-temurun.

---

Sebagai informasi tambahan, dokumentasi dan data terkini ICCAs dapat diunduh pada link berikut.

Narahubung

Lasti Fardilla Noor
Knowledge Management Manager, WGII
+6281388601039
[email protected]

Mega Ayu Lestari
Communications and Engagement Officer, WGII
+6287771425519
[email protected]

Newsletter Icon

Bergabung dengan
Buletin Kami

Berlangganan buletin kami untuk mendapatkan pembaruan terbaru, berita, acara, dan aktivitas komunitas langsung ke kotak masuk Anda.

Kami menghargai privasi Anda, email Anda aman bersama kami.